Senin, 25 April 2011

PTK MENULIS PUISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu proses penyampaian maksud atau isi hati pembicara kepada orang lain (lawan bicara) dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, atau penyampaian informasi tentang suatui peristiwa.
Salah satu bahan pengajaran bahasa yang terdapat dalam kurikulum adalah pengajaran sastra, yang saat ini masih dikelompokkan ke dalam bahan mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Strategi pengajaran sastra yang hendak digunakan seyogyanya didasarkan pada pendekatan yang paling serasi serta mendukung hakikat dan tujuan pengajaran sastra. Tujuan pengajaran sastra tidak lain agar siswa memperoleh pengalaman dan memperoleh pengetahuan bersastra. Usaha ke arah kemampuan siswa merespon pembelajaran sastra, tentu diperlukan rangsangan-rangsangan yang diciptakan guru dalam proses belajar mengajar. Sastra merupakan pengalaman dan bukan informasi, dengan demikian siswa harus secara langsung dilibatkan di dalamnya, bukan hanya memandang dari luar saja.


Salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran sastra adalah menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa diharapkan mampu menuliskan apa yang dirasa, atau apa yang dipikirkan dalam bahasa yang indah yang mengandung bahasa kiasan, dan berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis sastra yang diajarkan di kelas.
Keterampilan menulis puisi wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengkespresikan pikiran, perasaaan, pengalaman, dan imajinasinya melalui kegiatan menulis puisi secara kreatif. Proses pengimajinasian atau pengembangan pengalaman lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengekspresian imajinasi ke dalam rangkaian kata-kata yang disebut dengan istilah puisi
Berdasarkan kenyataan hasil pengamatan dan observasi sementara di kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari, pembelajaran Bahasa Indonesia (bahasan Sastra) dalam hal ini pembelajaran menulis puisi kurang mencapai hasil yang maksimal, baik dari segi minat maupun dari segi hasil proses pembelajaran yang diterapkan. Salah satu faktor utama rendahnya kemampuan menulis puisi ini adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi ini menggunakan metode ceramah. Padahal metode ceramah menuntut konsentrasi yang terus menerus, membatasi partisipasi siswa,sehingga siswa akan merasa jenuh dan bosan. Setelah itu siswa diberi tugas untuk membuat puisi, minggu berikutnya tugas itu dikumpulkan.
Dengan metode seperti itu siswa merasa tertekan, sehingga siswa sulit dalam menemukan ide, dan akhirnya siswa merasa kesulitan dalam menulis puisi. Berangkat dari permasalahan tersebut, yang mulanya menggunakan metode ceramah, maka peneliti mencoba untuk menerapkan Strategi Kontextual Teaching and Learning dalam pembelajaran menulis puisi.
Atas dasar pemikiran tersebut, penulis bermaksud mengadakan penelitian (penelitian tindakan kelas) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari”.
Adapun alasan-alasan yang mengakibatkan peneliti beranggapan bahwa Pembelajaran menulis puisi sekarang ini dirasakan kurang mendapat perhatian dari siswa. Mereka seakan tidak merasa antusias bahkan terlihat rasa keengganan untuk berpuisi, hal ini mungkin disebabkan karena mereka kurang terbiasa untuk berapreasiasi yang melibatkan aspek akal, rasa, dan ketrampilan. Selain daripada itu pelaksanaan pembelajaran lain masih kurang menuntut hal seperti itu. Pada umumnya pembelajaran dilaksanakan dengan pola guru memberikan segalanya kepada siswa dan siswa tinggal menerima konsep yang sudah jadi, tinggal mendengar, mencatat, memahami, dan mengingatnya. Karena ketidakbiasaan tersebut, pembelajaran puisi yang menuntut kreativitas menjadi sesuatu yang menuntut usaha lebih dari siswa. Atau mungkin pula belum tumbuhnya kesadaran guru dan siswa akan peran berpuisi yang bisa mengembangkan IQ, EQ, dan SQ. Hal ini ditandai bahwa kebanyakan siswa (atau bahkan guru) enggan untuk berperan aktif dalam kegiatan yang menuntut penampilan, baik berpidato, berpuisi, atau bahkan bernyanyi. Bukankah bernyanyi pada hakekatnya adalah berpuisi dengan iringan nada ? Karena apa terjadi demikian? Biasanya yang terjadi adalah karena masalah sepele, yaitu tidak biasa dan tidak membiasakan berkomunikasi, sehingga yang tumbuh adalah rasa rendah diri, pemalu, dan rasa takut salah. Padahal salah adalah bagian dari belajar, tidak ada pembelajaran tanpa kesalahan, dan tidak pernah salah adalah cirinya tidak belajar. Dengan berpuisi (menulis dan mengkomunikasikan) siswa akan terlatih dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berkreasi (kreativitas) melalui kegiatan eksplorasi, inkuiri, penalaran, dan komunikasi. Padahal, menurut teori belajar mutakhir (Peter Sheal, dalam Erman, 2004: 7) mengemukakan bahwa belajar yang paling bermakna hingga mencapai 90 % adalah dengan cara melakukan-mengalami dan mengkomunikasikan. Agar pembelajaran sesuai dengan prinsip tersebut, materi pelajaran haruslah disesuaikan dan diangkat dari konteks aktual yang dialami siswa dalam kehidupannya.
Di sinilah guru dituntut untuk membelajarkan siswa dengan memandang siswa sebagai subjek belajar, yaitu dengan cara guru memulai pembelajaran yang dimulai atau dikaitkan dengan dunia nyata yaitu diawali dengan bercerita atau tanya-jawab lisan tentang kondisi aktual dalam kehidupan siswa (daily life), kemudian diarahkan melalui modeling agar siswa termotivasi, questioning agar siswa berfikir, constructivism agar siswa membangun pengertian, inquiry agar siswa bisa menemukan konsep dengan bimbingan guru, learning community agar siswa bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman serta terbiasa berkolaborasi, reflection agar siswa bisa mereviu kembali pengalaman belajarnya, serta authentic assessment agar penilaian yang diberikan menjadi sangat objektif. Pembelajaran dengan sintaks seperti ini (Depdinas, 2002) menyebutnya dengan istilah Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, TL). Dengan pola CTL tersebut di atas, yang bisa memfasilitasi keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang tinggi, diharapkan kemampuan kreativitas siswa pada pembelajaran berpuisi, dalam arti menulis dan mengkomunikasikan hasil puisinya, menjadi meningkat. Sehingga siswa merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya masing-masing, yang pada gilirannya nanti minat belajar meningkat, siswa belajar dengan antusias, dan dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Kata implementasi pendekatan kontekstual sebagai variabel bebas (idependen, stimulus) di atas mengandung pengertian pelaksanaan, jadi penulis akan melaksanakan pendekatan pembelajaran kontekstual sebagai unsur inovasi dalam pembelajaran. Peningkatan kemampuan kreativitas sebagai variabel tak bebas (dependen, respons, terikat) dimaksudkan sebagai unsur solusi masalah yang terjadi di lapangan (kelas nyata), sedangkan berpuisi sebagai variabel perantara (intervening) dimaksudkan adalah menulis puisi dan mengkomunikasikannya.

B. Rumusan Masalah
Bila kita pikirkan secara mendalam setiap masalah pada hakekatnya kompleks. Mengingat kompleksitas permasalahan, maka tidak mungkin kita selidiki seluruhnya. Oleh karena itu masalah perlu dibatasi agar lebih jelas dan mudah menelitiannya.
Masalah penelitian yang menjadi fokus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah “ Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari” Untuk memudahkan penelitian, rumusan masalahnya dituangkan dalam bentuk pertanyaan berikut:
1. Berapa besarkah peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari?
2. Adakah perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti pembelajaran melalui Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning?

C. Tujuan dan Masalah Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari
Sistem belajar dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning yang kondusif dan atraktif, perencanaan metode pembelajaran untuk menunjang pembelajaran bahasa Indonesia sehingga mampu menumbuhkan sikap emosional, sosial, dan intelektual yang positif, maka pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan lebih efektif dan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang akhirnya tujuan pendidikan diharapkan dapat tercapai.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1. Ingin mengetahui seberapa besar peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari.
2. Ingin mengetahui perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan inovasi baru dalam hal pembelajaran baik bagi perorangan maupun bagi lembaga. Secara khusus manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi Siswa :
a. Mengembangkan kreativitas dan kemandirian siswa.
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
c. Memberikan pengalaman dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

2. Bagi Guru :
a. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning.
b. Mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
3. Bagi Lembaga :
Memberikan kontribusi yang positif bagi sekolah dalam mengembangkan model pembelajaran.

0 komentar:

Poskan Komentar