This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 25 April 2011

PTK MENULIS PUISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu proses penyampaian maksud atau isi hati pembicara kepada orang lain (lawan bicara) dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, atau penyampaian informasi tentang suatui peristiwa.
Salah satu bahan pengajaran bahasa yang terdapat dalam kurikulum adalah pengajaran sastra, yang saat ini masih dikelompokkan ke dalam bahan mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Strategi pengajaran sastra yang hendak digunakan seyogyanya didasarkan pada pendekatan yang paling serasi serta mendukung hakikat dan tujuan pengajaran sastra. Tujuan pengajaran sastra tidak lain agar siswa memperoleh pengalaman dan memperoleh pengetahuan bersastra. Usaha ke arah kemampuan siswa merespon pembelajaran sastra, tentu diperlukan rangsangan-rangsangan yang diciptakan guru dalam proses belajar mengajar. Sastra merupakan pengalaman dan bukan informasi, dengan demikian siswa harus secara langsung dilibatkan di dalamnya, bukan hanya memandang dari luar saja.


Salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran sastra adalah menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa diharapkan mampu menuliskan apa yang dirasa, atau apa yang dipikirkan dalam bahasa yang indah yang mengandung bahasa kiasan, dan berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis sastra yang diajarkan di kelas.
Keterampilan menulis puisi wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengkespresikan pikiran, perasaaan, pengalaman, dan imajinasinya melalui kegiatan menulis puisi secara kreatif. Proses pengimajinasian atau pengembangan pengalaman lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengekspresian imajinasi ke dalam rangkaian kata-kata yang disebut dengan istilah puisi
Berdasarkan kenyataan hasil pengamatan dan observasi sementara di kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari, pembelajaran Bahasa Indonesia (bahasan Sastra) dalam hal ini pembelajaran menulis puisi kurang mencapai hasil yang maksimal, baik dari segi minat maupun dari segi hasil proses pembelajaran yang diterapkan. Salah satu faktor utama rendahnya kemampuan menulis puisi ini adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi ini menggunakan metode ceramah. Padahal metode ceramah menuntut konsentrasi yang terus menerus, membatasi partisipasi siswa,sehingga siswa akan merasa jenuh dan bosan. Setelah itu siswa diberi tugas untuk membuat puisi, minggu berikutnya tugas itu dikumpulkan.
Dengan metode seperti itu siswa merasa tertekan, sehingga siswa sulit dalam menemukan ide, dan akhirnya siswa merasa kesulitan dalam menulis puisi. Berangkat dari permasalahan tersebut, yang mulanya menggunakan metode ceramah, maka peneliti mencoba untuk menerapkan Strategi Kontextual Teaching and Learning dalam pembelajaran menulis puisi.
Atas dasar pemikiran tersebut, penulis bermaksud mengadakan penelitian (penelitian tindakan kelas) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari”.
Adapun alasan-alasan yang mengakibatkan peneliti beranggapan bahwa Pembelajaran menulis puisi sekarang ini dirasakan kurang mendapat perhatian dari siswa. Mereka seakan tidak merasa antusias bahkan terlihat rasa keengganan untuk berpuisi, hal ini mungkin disebabkan karena mereka kurang terbiasa untuk berapreasiasi yang melibatkan aspek akal, rasa, dan ketrampilan. Selain daripada itu pelaksanaan pembelajaran lain masih kurang menuntut hal seperti itu. Pada umumnya pembelajaran dilaksanakan dengan pola guru memberikan segalanya kepada siswa dan siswa tinggal menerima konsep yang sudah jadi, tinggal mendengar, mencatat, memahami, dan mengingatnya. Karena ketidakbiasaan tersebut, pembelajaran puisi yang menuntut kreativitas menjadi sesuatu yang menuntut usaha lebih dari siswa. Atau mungkin pula belum tumbuhnya kesadaran guru dan siswa akan peran berpuisi yang bisa mengembangkan IQ, EQ, dan SQ. Hal ini ditandai bahwa kebanyakan siswa (atau bahkan guru) enggan untuk berperan aktif dalam kegiatan yang menuntut penampilan, baik berpidato, berpuisi, atau bahkan bernyanyi. Bukankah bernyanyi pada hakekatnya adalah berpuisi dengan iringan nada ? Karena apa terjadi demikian? Biasanya yang terjadi adalah karena masalah sepele, yaitu tidak biasa dan tidak membiasakan berkomunikasi, sehingga yang tumbuh adalah rasa rendah diri, pemalu, dan rasa takut salah. Padahal salah adalah bagian dari belajar, tidak ada pembelajaran tanpa kesalahan, dan tidak pernah salah adalah cirinya tidak belajar. Dengan berpuisi (menulis dan mengkomunikasikan) siswa akan terlatih dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berkreasi (kreativitas) melalui kegiatan eksplorasi, inkuiri, penalaran, dan komunikasi. Padahal, menurut teori belajar mutakhir (Peter Sheal, dalam Erman, 2004: 7) mengemukakan bahwa belajar yang paling bermakna hingga mencapai 90 % adalah dengan cara melakukan-mengalami dan mengkomunikasikan. Agar pembelajaran sesuai dengan prinsip tersebut, materi pelajaran haruslah disesuaikan dan diangkat dari konteks aktual yang dialami siswa dalam kehidupannya.
Di sinilah guru dituntut untuk membelajarkan siswa dengan memandang siswa sebagai subjek belajar, yaitu dengan cara guru memulai pembelajaran yang dimulai atau dikaitkan dengan dunia nyata yaitu diawali dengan bercerita atau tanya-jawab lisan tentang kondisi aktual dalam kehidupan siswa (daily life), kemudian diarahkan melalui modeling agar siswa termotivasi, questioning agar siswa berfikir, constructivism agar siswa membangun pengertian, inquiry agar siswa bisa menemukan konsep dengan bimbingan guru, learning community agar siswa bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman serta terbiasa berkolaborasi, reflection agar siswa bisa mereviu kembali pengalaman belajarnya, serta authentic assessment agar penilaian yang diberikan menjadi sangat objektif. Pembelajaran dengan sintaks seperti ini (Depdinas, 2002) menyebutnya dengan istilah Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, TL). Dengan pola CTL tersebut di atas, yang bisa memfasilitasi keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang tinggi, diharapkan kemampuan kreativitas siswa pada pembelajaran berpuisi, dalam arti menulis dan mengkomunikasikan hasil puisinya, menjadi meningkat. Sehingga siswa merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya masing-masing, yang pada gilirannya nanti minat belajar meningkat, siswa belajar dengan antusias, dan dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Kata implementasi pendekatan kontekstual sebagai variabel bebas (idependen, stimulus) di atas mengandung pengertian pelaksanaan, jadi penulis akan melaksanakan pendekatan pembelajaran kontekstual sebagai unsur inovasi dalam pembelajaran. Peningkatan kemampuan kreativitas sebagai variabel tak bebas (dependen, respons, terikat) dimaksudkan sebagai unsur solusi masalah yang terjadi di lapangan (kelas nyata), sedangkan berpuisi sebagai variabel perantara (intervening) dimaksudkan adalah menulis puisi dan mengkomunikasikannya.

B. Rumusan Masalah
Bila kita pikirkan secara mendalam setiap masalah pada hakekatnya kompleks. Mengingat kompleksitas permasalahan, maka tidak mungkin kita selidiki seluruhnya. Oleh karena itu masalah perlu dibatasi agar lebih jelas dan mudah menelitiannya.
Masalah penelitian yang menjadi fokus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah “ Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari” Untuk memudahkan penelitian, rumusan masalahnya dituangkan dalam bentuk pertanyaan berikut:
1. Berapa besarkah peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari?
2. Adakah perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti pembelajaran melalui Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning?

C. Tujuan dan Masalah Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari
Sistem belajar dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning yang kondusif dan atraktif, perencanaan metode pembelajaran untuk menunjang pembelajaran bahasa Indonesia sehingga mampu menumbuhkan sikap emosional, sosial, dan intelektual yang positif, maka pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan lebih efektif dan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang akhirnya tujuan pendidikan diharapkan dapat tercapai.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1. Ingin mengetahui seberapa besar peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari.
2. Ingin mengetahui perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan inovasi baru dalam hal pembelajaran baik bagi perorangan maupun bagi lembaga. Secara khusus manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi Siswa :
a. Mengembangkan kreativitas dan kemandirian siswa.
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
c. Memberikan pengalaman dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

2. Bagi Guru :
a. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan model pembelajaran berbasis contextual teaching and learning.
b. Mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
3. Bagi Lembaga :
Memberikan kontribusi yang positif bagi sekolah dalam mengembangkan model pembelajaran.

Minggu, 24 April 2011

PROPOSAL PTK MENULIS PUISI

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Judul Penelitian :

Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari

B. Latar Belakang
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu proses penyampaian maksud atau isi hati pembicara kepada orang lain (lawan bicara) dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, atau penyampaian informasi tentang suatui peristiwa.


Salah satu bahan pengajaran bahasa yang terdapat dalam kurikulum adalah pengajaran sastra, yang saat ini masih dikelompokkan ke dalam bahan mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Strategi pengajaran sastra yang hendak digunakan seyogyanya didasarkan pada pendekatan yang paling serasi serta mendukung hakikat dan tujuan pengajaran sastra. Tujuan pengajaran sastra tidak lain agar siswa memperoleh pengalaman dan memperoleh pengetahuan bersastra. Usaha ke arah kemampuan siswa merespon pembelajaran sastra, tentu diperlukan rangsangan-rangsangan yang diciptakan guru dalam proses belajar mengajar. Sastra merupakan pengalaman dan bukan informasi, dengan demikian siswa harus secara langsung dilibatkan di dalamnya, bukan hanya memandang dari luar saja.
Salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran sastra adalah menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa diharapkan mampu menuliskan apa yang dirasa, atau apa yang dipikirkan dalam bahasa yang indah yang mengandung bahasa kiasan, dan berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis sastra yang diajarkan di kelas.
Keterampilan menulis puisi wajib dikuasai oleh siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengkespresikan pikiran, perasaaan, pengalaman, dan imajinasinya melalui kegiatan menulis puisi secara kreatif. Proses pengimajinasian atau pengembangan pengalaman lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengekspresian imajinasi ke dalam rangkaian kata-kata yang disebut dengan istilah puisi
Berdasarkan kenyataan hasil pengamatan dan observasi sementara di kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari, pembelajaran Bahasa Indonesia (bahasan Sastra) dalam hal ini pembelajaran menulis puisi kurang mencapai hasil yang maksimal, baik dari segi minat maupun dari segi hasil proses pembelajaran yang diterapkan. Salah satu faktor utama rendahnya kemampuan menulis puisi ini adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi ini menggunakan metode ceramah. Padahal metode ceramah menuntut konsentrasi yang terus menerus, membatasi partisipasi siswa,sehingga siswa akan merasa jenuh dan bosan. Setelah itu siswa diberi tugas untuk membuat puisi, minggu berikutnya tugas itu dikumpulkan.
Dengan metode seperti itu siswa merasa tertekan, sehingga siswa sulit dalam menemukan ide, dan akhirnya siswa merasa kesulitan dalam menulis puisi. Berangkat dari permasalahan tersebut, yang mulanya menggunakan metode ceramah, maka peneliti mencoba untuk menerapkan Strategi Kontekstual Teaching and Learning dalam pembelajaran menulis puisi.
Atas dasar pemikiran tersebut, penulis bermaksud mengadakan penelitian (penelitian tindakan kelas) dengan judul” Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Strategi Kontekstual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari”.
Adapun alasan-alasan yang mengakibatkan peneliti beranggapan bahwa Pembelajaran menulis puisi sekarang ini dirasakan kurang mendapat perhatian dari siswa. Mereka seakan tidak merasa antusias bahkan terlihat rasa keengganan untuk berpuisi, hal ini mungkin disebabkan karena mereka kurang terbiasa untuk berapreasiasi yang melibatkan aspek akal, rasa, dan ketrampilan. Selain daripada itu pelaksanaan pembelajaran lain masih kurang menuntut hal seperti itu. Pada umumnya pembelajaran dilaksanakan dengan pola guru memberikan segalanya kepada siswa dan siswa tinggal menerima konsep yang sudah jadi, tinggal mendengar, mencatat, memahami, dan mengingatnya. Karena ketidakbiasaan tersebut, pembelajaran puisi yang menuntut kreativitas menjadi sesuatu yang menuntut usaha lebih dari siswa. Atau mungkin pula belum tumbuhnya kesadaran guru dan siswa akan peran berpuisi yang bisa mengembangkan IQ, EQ, dan SQ. Hal ini ditandai bahwa kebanyakan siswa (atau bahkan guru) enggan untuk berperan aktif dalam kegiatan yang menuntut penampilan, baik berpidato, berpuisi, atau bahkan bernyanyi. Bukankah bernyanyi pada hakekatnya adalah berpuisi dengan iringan nada ? Karena apa terjadi demikian? Biasanya yang terjadi adalah karena masalah sepele, yaitu tidak biasa dan tidak membiasakan berkomunikasi, sehingga yang tumbuh adalah rasa rendah diri, pemalu, dan rasa takut salah. Padahal salah adalah bagian dari belajar, tidak ada pembelajaran tanpa kesalahan, dan tidak pernah salah adalah cirinya tidak belajar. Dengan berpuisi (menulis dan mengkomunikasikan) siswa akan terlatih dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berkreasi (kreativitas) melalui kegiatan eksplorasi, inkuiri, penalaran, dan komunikasi. Padahal, menurut teori belajar mutakhir (Peter Sheal, dalam Erman, 2004: 7) mengemukakan bahwa belajar yang paling bermakna hingga mencapai 90 % adalah dengan cara melakukan-mengalami dan mengkomunikasikan. Agar pembelajaran sesuai dengan prinsip tersebut, materi pelajaran haruslah disesuaikan dan diangkat dari konteks aktual yang dialami siswa dalam kehidupannya.
Di sinilah guru dituntut untuk membelajarkan siswa dengan memandang siswa sebagai subjek belajar, yaitu dengan cara guru memulai pembelajaran yang dimulai atau dikaitkan dengan dunia nyata yaitu diawali dengan bercerita atau tanya-jawab lisan tentang kondisi aktual dalam kehidupan siswa (daily life), kemudian diarahkan melalui modeling agar siswa termotivasi, questioning agar siswa berfikir, constructivism agar siswa membangun pengertian, inquiry agar siswa bisa menemukan konsep dengan bimbingan guru, learning community agar siswa bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman serta terbiasa berkolaborasi, reflection agar siswa bisa mereviu kembali pengalaman belajarnya, serta authentic assessment agar penilaian yang diberikan menjadi sangat objektif. Pembelajaran dengan sintaks seperti ini (Depdinas, 2002) menyebutnya dengan istilah Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, TL). Dengan pola CTL tersebut di atas, yang bisa memfasilitasi keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang tinggi, diharapkan kemampuan kreativitas siswa pada pembelajaran berpuisi, dalam arti menulis dan mengkomunikasikan hasil puisinya, menjadi meningkat. Sehingga siswa merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya masing-masing, yang pada gilirannya nanti minat belajar meningkat, siswa belajar dengan antusias, dan dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Kata implementasi pendekatan kontekstual sebagai variabel bebas (idependen, stimulus) di atas mengandung pengertian pelaksanaan, jadi penulis akan melaksanakan pendekatan pembelajaran kontekstual sebagai unsur inovasi dalam pembelajaran. Peningkatan kemampuan kreativitas sebagai variabel tak bebas (dependen, respons, terikat) dimaksudkan sebagai unsur solusi masalah yang terjadi di lapangan (kelas nyata), sedangkan berpuisi sebagai variabel perantara (intervening) dimaksudkan adalah menulis puisi dan mengkomunikasikannya.



C. Rumusan Masalah
Bila kita pikirkan secara mendalam setiap masalah pada hakekatnya kompleks. Mengingat kompleksitas permasalahan, maka tidak mungkin kita selidiki seluruhnya. Oleh karena itu masalah perlu dibatasi agar lebih jelas dan mudah menelitiannya.
Masalah penelitian yang menjadi fokus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari” Untuk memudahkan penelitian, rumusan masalahnya dituangkan dalam bentuk pertanyaan berikut:
1. Berapa besarkah peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan strategi contekstual teaching and learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari?
2. Adakah perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti pembelajaran melalui strategi contekstuan teaching and learning?.

D. Tujuan dan Masalah Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Strategi Contekstual Teaching and Learning pada Siswa Kelas VIII A di SMP Negeri 1 Banjarsari
Sistem belajar dengan Strategi Contekstual Teaching and Learning yang kondusif dan atraktif, perencanaan metode pembelajaran untuk menunjang pembelajaran bahasa Indonesia sehingga mampu menumbuhkan sikap emosional, sosial, dan intelektual yang positif, maka pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan lebih efektif dan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang akhirnya tujuan pendidikan diharapkan dapat tercapai.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1. Ingin mengetahui seberapa besar peningkatan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan strategi contekstual teaching and learning pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari.
2. Ingin mengetahui perubahan sikap siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Banjarsari terhadap pembelajaran menulis puisi setelah mengikuti pembelajaran melalui strategi contekstual teaching and learning.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan inovasi baru dalam hal pembelajaran baik bagi perorangan maupun bagi lembaga. Secara khusus manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi Siswa :
a. Mengembangkan kreativitas dan kemandirian siswa.
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
c. Memberikan pengalaman dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

2. Bagi Guru :
a. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi contektual teaching and learning.
b. Mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
3. Bagi Lembaga :
Memberikan kontribusi yang positif bagi sekolah dalam mengembangkan model pembelajaran.

F. Kajian Teori
1. Pengertian Menulis
Menurut Tarigan (Hasani, 2005:1) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik tersebut. Rusyana (Hasani, 2005:1) menyatakan bahwa wujud pengutaran sesuatu secara tersusun dengan mempergunakan bahasa disebut karangan.
Menurut Syamsudin (Hasani, 2005:1) Menulis adalah aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran, dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat dipahami oleh para pembaca
Menurut Hasani (2005:2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktifdan ekspresif, sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata.

2. Puisi
Puisi pada hakikatnya teori puisi mengomunikasikan pengalaman yang penting-penting karena puisi lebih terpusat dan terorganisasi.(Badrun 1989:2). Puisi berhubungan dengan pengalaman (Perrinel 1988:512). Beberapa sastrawan telah mencoba memberi definisi sebagai berikut: (1) Puisi adalah seni peniruan, gambar bicara, yang bertujuan untuk mengejar kesenangan, (2) Luapan secara spontan perasaan terkuat yang bersumber dari perasaan yang terkumpul dari ketenangan (3) Puisi adalah lahar imajinasi yang menahan terjadinya gempa bumi, (4) puisi adalah ekspresi konkrit dan artistik pemikiran manusia dalam bahasa yang emosional yang berirama, (5) Puisi adalah pengalaman imajinatif yang bernilai dan berarti sederhana yang disampaikan dengan bahasa yang tepat, (6) puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat menafsirkan dalam bahasa berirama. Altenbernd (1970:2) puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) ( as the interpretive dramatization of experience in metrical language). Maksud pengertian diatas adalah bahwa pendramaan di sini adalah orang penyair mengubah atau menceritakan pengalaman melalui puisi engan bahasa yang terstruktur. Pengalaman itu dapat berupa pengalaman menyedihkan, menyenangkan, dan mengharukan.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Dari pengertian tersebut bahwa puisi dibuat seindah mungkin baik dilihat dari dari bahasa, susunan dan keindahan secara umum. Carlyle berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musical. Dalam perkataan tersebut bahwa pemikiran yang bersifat musikal yaitu irama, bunyi, yang ada dalam puisi tersebut serasi dan mempergunakan orkestasi bunyi. Wordswoth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataanperasaan yang imajinatif yaitu perasaan yang direkaan atau diangankan. Berdasarkan pengertian tersebut puisi dapat sebagai ungkapan seseorang / perasaan yang dirasakan baik itu secara langsung ataupun tidak secara langsung. Kemudian Shelly mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita.Misalnya saja peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesediaan karena kematian. Jadi di sini dapat dikatakan sebagai ungkapan baik itu ungkapan kesedihan ataupun berupa kesenangan yang terekam dalam pikiran kita.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa puisi adalah ekspresi pengalaman yang ditulis secara sistematik dengan bahasa yang puitis. Kata puitis sudah mengandung keindahan yang khusus untuk puisi.
Disamping itu puisi dapat membangkitkan perasaan yang menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas atau secara umum menimbulkan keharuan.



3. Pembelajaran Menulis Puisi
Menulis merupakan suatu proses, maka pembelajaran menulis puisi dilakukan secara bertahap-tahap sampai menciptakan hasil yang memuaskan. Utami Munandar (1993) menyimpulkan ada empat tahap dalam proses pemikiran kreatif untuk menulis puisi. Diantaranya adalah:
a. tahap persiapan dan usaha
b. tahap inkubasi atau pengendapan
c. tahap iluminasi
d. tahap verifikasi.
Pada tahap persiapan dan usaha seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut.
Tahap inkubiasi atau pengendapan, setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan serta berusaha dengan pelibatan diri sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin, maka biasanya diperlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar.
Tahap iluminasi, akan mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam puisi. Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu penulis melakukan penilaian
secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan orang lain untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.
Setelah menyimak tahap-tahap yang disampaikan oleh Utami Munandar, penulis menyederhanakan sebagai berikut:
1) Tahap prakarsa
Tahap prakarsa merupakan tahap pencarian ide untuk dituangkan dalam bentuk tulisan yang berupa puisi. Ide-ide dapat berupa pengalaman-pengalaman seseorang untuk melakukan tugas atau memecahkan masalah-masalah tertentu. Di samping itu ide dapat dicari dari sesuatu yang langsung dilihat. Makin banyak orang mempunyai ide, makin mudah untuk menulis puisi.
2) Tahap Pelanjutan
Tahap ini merupakan tahap tindak lanjut dari tahap pencarian ide setelah seseorang mendapatkan ide-ide dari berbagai sumber dan cara,kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan ide-ide tersebut menjadi sebuah puisi. Dalam tahap pelanjutan ini, setelah dikembangkan kemudian direvisi, karena manusia tidak akan lepas dari kesalahan.
3) Tahap Pengakhiran
Adapun puisi yang diajarkan siswa adalah puisi transparan yang merupakan bentuk puisi sederhana atau dapat disebut dengan puisi diaphan. Di samping itu dalam latihan penulisan puisi ini tidak hanya untuk mempertajam pengamatan dan meningkatkan kemampuan bahasa , akan tetapi siswa diharapkan dapat memperoleh minat segar yang muncul dari kedalaman puisi itu sendiri.
Adapun cara membina siswa agar mereka dapat menulis dengan baik adalah :
• Memanfaatkan model atan teknik. Dalam pemanfaatan model mungkin siswa diperkenalkan atau diperlihatkan puisi yang mudah dipahami dan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya jelas. Apabila guru tersebut dengan menggunakan teknik guru berusaha mencari teknik yang cocok oleh siswa tersebut.
• Unsur-unsurnya
Dalam pembelajaran menulis puisi, sebelum siswa mulai menulis dijelaskan mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam puisi.
• Kebakatannya.
Kebakatan siswa perlu diketahui oleh guru, kemudian bakat itu diarahkan dan dikembangkan dengan teknik-teknik tertentu.

4. Prestasi Belajar
Hasil dari suatu proses pendidikan, yakni output pendidikan adalah kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah. Output pendidikan yang berkualitas dapat dilihat apabila prestasi sekolah khususnya prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi, baik prestasi akademik, maupun prestasi non akademik.
Prestasi belajar siswa merupakan tingkat prestasi yang dicapai dari hasil belajar siswa, Makmun (1985:16) menjelaskan bahwa :
“Prestasi belajar adalah kecakapan nyata atau aktual ability, yang menunjukkan pada kecakapan segera dapat didemonstrasikan dan diuji sekarang juga, karena merupakan hasil usaha yang bersangkutan dan diuji bahan dan dalam hal tertentu yang telah dijalaninya.”
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Ali (1991 : 10) mengemukakan beberapa prestasi belajar sebagai berikut :
a. Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dapat diukur. Untuk mengukur perubahan tingkah laku tersebut dapat digunakan tes prestasi belajar.
b. Prestasi menunjukkan kepada individu sebagai sebab, artinya individu sebagai pelaku.
c. Prestasi belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya baik berdasarkan kriteria yang ditetapkan terlebih dahulu oleh panitia atau ditetapkan menurut sumber yang dicapai menurut kelompok.
d. Prestasi belajar menunjukkan kepada hasil dari kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan disadari.
Dari pendapat di atas, prestasi belajar ini menjadi petunjuk bagi guru mengenai ketercapaian tujuan pendidikan oleh siswa di lembaga pendidikan tersebut sekaligus sebagai bahan untuk melakukan bimbingan terhadap siswa, baik yang mengalami kesulitan belajar, maupun yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu prestasi belajar yang dicapai siswa dapat juga memberikan gambaran mengenai kinerja sekolah maupun produktivitas sekolah.



5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Berbahasa Siswa
Hal ini didasarkan atas pendapat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang dijelaskan oleh Sukardi (1983 :30) yaitu sebagai berikut :
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar, faktor-faktor itu dapat digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu :
a. Faktor internal, ialah faktor yang menyangkut seluruh diri pribadi termasuk fisik maupun mental atau fisiko fisiknya yang ikut menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar.
b. Faktor eksternal, ialah faktor yang bersumber dari luar individu yang bersangkutan, misalnya ruang belajar yang tidak memenuhi syarat, alat-alat pelajaran yang tidak memadai, dan lingkungan social dan lingkungan alamiahnya.
Faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah merupakan hasil kinerja dari seluruh unsur manajemen sekolah.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan melalui suatu kegiatan seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan sebagainya. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, harga diri, minat, dan watak. Jelasnya menyangkut segala perubahan tingkah laku seseorang secara positif, baik dimensi kognitif, afektif, maupun psikomotor, sehingga belajar dapat dikatakan sebagai rangkaian kegiatan untuk menuju perkembangan dalam rangka mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Maka dapat dikatakan bahwa, “Terjadinya proses pembelajaran itu apabila seseorang menunjukkan ‘tingkah laku yang berbeda’ atau dapat menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu ke tingkat anilitas yang lain” (Sadirman, 2000 : 23). Ini berarti bahwa hasil belajar yang diinginkan dari siswa itu berupa munculnya perubahan perilaku.
6. Pendekatan Contekstual teaching and learning
a. Pengertaian Contektual Teaching and Learning
1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat
b. Hakekat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
c. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Ciptakan masyarakat belajar
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
d. Tujuh Komponen CTL
1. Konstruktivisme
• Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
• Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2. Inquiry
• Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
• Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. Questioning (Bertanya)
• Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
• Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
• Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
• Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
• Tukar pengalaman
• Berbagi ide
5. Modeling (Pemodelan)
• Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
• Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

6. Reflection ( Refleksi)
• Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
• Mencatat apa yang telah dipelajari
• Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian yang Sebenarnya)
• Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
• Penilaian produk (kinerja)
• Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
e. Karakteristik Pembelajaran CTL
• Kerjasama
• Saling menunjang
• Menyenangkan, tidak membosankan
• Belajar dengan bergairah
• Pembelajaran terintegrasi
• Menggunakan berbagai sumber
• Siswa aktif
• Sharing dengan teman
• Siswa kritis guru kreatif
• Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
• Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.
G. Hipotesis Tindakan
Hipotesis merupakan praduga atau kesimpulan sementara yang perlu diuji kebenarannya melalui suatu penelitian. Perumusan hipotesis perlu memilih yang menurut dugaan paling besar kemungkinannya untuk dibenarkan oleh data.
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Ha : Ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan model contektual teaching and learning
Ho : Tidak Ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan model contektual teaching and learning
2. Ha : Ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran contektual teaching and learning
Ho : Tidak ada peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran contektual teaching and learning

H. Rencana dan Prosedur Penelitain
1. Setting penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di kelas VIII A SMP N 1 Banjarsari. Rencana pelaksanaan penelitian ini pada minggu kesatu bulan Maret sampai dengan minggu ketiga bulan Maret 2010.
2. Prosedur Penelitian adalah berupa penelitian tindakan kelas dengan alur Kegiatan :









Berdasarkan alur kegiatan di atas, tahapan penelitian dijelaskan sebagai berikut:
a. Refleksi Awal
Pada tahap ini dilakukan identifikasi kesulitan siswa dalam menulis Laporan perjalanan
b. Perencanaan Tindakan
Masalah yang ditemukan akan diatasi dengan melakukan langkah-langkah perencanaan tindakan, yaitu menyusun instrument penelitian berupa: Rencana Program Pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa, soal tes, angket, lembar observasi.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan berupa pelaksanaan program pembelajaran. Pengambilan atau pengumpulan data hasil angket, lembar observasi dan hasil tes.
d. Observasi, Refleksi, dan Evaluasi
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data dan menganalisisnya. Hasil analisis dapat dijadikan kesimpulan dari penelitian ini.

I. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Bulan Maret
Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3
1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
1. Perencanaan
2. Persiapan
3. Pelaksanaan tindakan I
4. Pengolahan data
5. Pelaksanaan tindakan II
6. Pengolahan data
7. Penyusunan laporan

J. Rencana Anggaran

No
Kegiatan
Biaya
Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8. Atk
Pengadaan buku sumber
Pengadaan LKS
Konsumsi
Transportasi
Honor observer
Pengetikan dan penggandaan
Dokumentasi Rp 250.000
Rp 250.000
Rp 50.000
Rp 100.000
Rp 250.000
Rp 200.000
Rp 250.000
Rp 100.000 Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII A yang berjumlah 38 orang
J u m l a h Rp 1.450.000

K. Personalia Penelitian
Ketua : Aris Wahyu, S.Pd.
Anggota : 1. Drs. Syaefpudin Zuhri
2. Dedi Hernadi S.Pd. MM.
3. Ii Sumiati, S.Pd.
4. Dra. Surdati
L. Daftar Pustaka

Wardani, Igak. 2007.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional

Waluyo, Herman J.1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga

Poerwadarminta; W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN Balai Pustaka

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta : Prestasi Pustaka

Suganda, Elia. 2003. Konsep Dasar dan Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
Kuraesin, Nunung. 2003. Model Pembelajaran CTL. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

MAKALAH E-LIBRARY

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah bagian integral dari lembaga pendidikan tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematik untuk digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber bahan informasi, dalam rangka menunjang program belajar dan mengajar.
Tujuan penyelenggaraan perpustakaan ini adalah untuk menunjang program belajar mengajar agar tujuan umum dan khusus pendidikan bisa tercapai secara optimal.

Disamping itu perpustakaan ini juga berperan sebagai salah satu sarana pendidikan yang bersifat teknis edukatif dan bersama-sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya ikut menentukan berhasilnya proses pendidikan.
Fungsi pokok perpustakaan ini adalah memberikan pelayanan informasi untuk menunjang program belajar dan mengajar, baik dalam usaha pendalaman dan penghayatan pengetahuan, penguasaan keterampilan maupun penyerapan dan pengembangan nilai dan sikap hidup siswa.
Namun perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Kecepatan memperoleh informasi juga menjadi salah satu ciri dari situasi ini. Tidak hanya kemudahan dalam memperoleh informasi, tapi juga harga atau modal yang mahal yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan informasi tersebut. Kebutuhan akan informasi sangat dirasakan oleh setiap personalia yang ada di lingkungan pendidikan baik guru maupun siswa sebagai peserta didik. Siswa sebagai salah satu aset institusi yang penting haruslah mendapatkan prioritas dalam mendapatkan informasi terutama yang berkaitan dengan kegiatan belajar mereka
Kegiatan belajar mengajar sebagai suatu proses komunikasi akan berjalan dengan baik jika ditunjang dengan unsur-unsur komunikasi yang baik pula, seperti sumber informasi, saluran informasi, dan penerima informasi. Perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi akan sangat bermanfaat jika ternyata mampu menyediakan berbagai pesan yang dibutuhkan oleh user (pengguna), guru, siswa, karyawan sekolah, dan lain-lain. Penyediaan informasi yang lengkap melalui perpustakaan sekolah akan sangat membantu siswa dalam proses belajarnya. Selain itu guru pun dapat memanfaatkan perpustakaan terutama untuk memperoleh sumber-sumber pengetahuan baru yang sangat berguna bagi peningkatan kemampuannya.
Pepustakaan yang berada di setiap sekolah dan tersebar di berbagai komplek merupakan aset yang sangat penting pula. Hanya kondisi perpustakaan yang ada saat ini masih bersifat konvensional. Tanpa kehadiran (user) pengguna di perpustakaan, informasi dari bahan pustaka tidak dapat diperoleh pengguna. Artinya pengelolaan dan pelayanan perpustakaan masih bersifat manual. Dengan perkembangan teknologi informasi yang terjadi dewasa ini, perpustakaan dapat diubah dalam segi penyediaan informasi, pengelolaan serta pelayanannya melalui perangkat elektronis yaitu komputer. Ini yang biasa disebut dengan elektronic library atau perpustakaan elektronik. Kecepatan dan kemudahan memperoleh informasi akan menjadi ciri sebuah perpustakaan elektronik, sehingga akan menghilangkan hambatan waktu, jarak dan ruang atau tempat. Hal ini merupakan perkembangan yang lebih jauh setelah.
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
1. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
2. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya.

B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah e-library ini adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai
2. Mengembangkan komunikasi ilmiah (science communication)
3. Meningkatkan kompetensi nanajerial dan kepemimpinan (leadership) berbasis informasi.
4. Perpustakaan digital sangat penting terutama untuk mengatasi kendala tempat koleksi buku, jarak dan waktu.
5. Menanamkan budaya jaminan mutu, etos kerja dan nilai kerja pada setiap kegiatan perpustakaan.
6. Mempermudah dalam memanajemen koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran informasi.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Lebih Jauh Tentang Electronic Library (Perpustakaan Elektronik)
Electronic Library atau perpustakaan elektronik atau juga dikenal dengan perpustakaan maya adalah sebuah sistem informasi yang terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), pengelolaan, pelayanan serta penyediaan (akses) informasinya dilakukan dengan menggunakan perangkat elektronis yang berupa komputer. Jika dalam perpustakaan konvensional, bahan-bahan pustaka tersimpan dalam rak-rak penyimpanan dengan kodifikasi (DDC = Dewey Decimal Classification), tersedia meja/laci katalog untuk penelusuran bahan pustaka, ada bagian sirkulasi, ada ruang baca, dan lain-lain. Dalam perpustakaan elektronik, komponen-komponen tersebut tetap ada dalam pengertian tersedia tetapi tidak hadir dalam bentuk fisik (disebut maya) yang umumnya ada dalam perpustakaan konvensional. Perpustakaan elektronik merupakan provider atau penyedia informasi, transaksi atau layanan informasinya bersifat elektronik, serta menyediakan bahan-bahan pustaka (item) selain dalam bentuk data elektronik juga dalam bentuk yang lain seperti yang umumnya ada dalam perpustakaan konvensional.
Perpustakaan elektronik merupakan salah satu alternatif dalam menyediakan sumber informasi untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh (distance learning), mengingat user atau pengguna perpustakaan berada di tempat yang tidak diketahui keberadaannya. Ini dimungkinkan dengan adanya teknologi internet yang sudah berkembang dengan sangat pesat dewasa ini.
User dalam memperoleh informasi, selain menggunakan saluran elektronis seperti melalui komputer dan telepon juga dapat memperolehnya melalui layanan lain seperti melalui jaringan layanan pos atau user juga bisa datang langsung ke tempat di mana sumber informasi tersebut berada.
Dalam perpustakaan konvensional, organisasi perpustakaan biasanya terdiri dari kepala perpustakaan, bagian/divisi pengadaan, bagian pengolahan, bagian sirkulasi, bagian referensi, dan lain-lain. Pada perpustakaan elektronik bagian atau divisi umumnya masih seperti perpustakaan konvensional. Tetapi untuk sebuah perpustakaan elektronik, divisi atau bagian yang minimal harus ada adalah bagian yang mengurus tentang hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak), divisi pengadaan, dan divisi/bagian pelayanan. Yang membedakan kedua perpustakaan itu adalah sifat pekerjaan dari masing-masing bagian/divisi yang ditanganinya. Untuk perpustakaan elektronik sesuai dengan ciri dari perpustakaan elektronik itu sendiri yang menyediakan data dan pelayanan elektronik, maka fungsi dari masing-masing bagianpun tidak akan terlepas dari perangkat elektronik.
Untuk lebih memberikan gambaran lebih jelas lagi, perpustakaan elektronik sebagai suatu sistem informasi, bagaimana keterkaitan dan hubungan yang terjadi antar komponen dalam sebuah perpustakaan elektronik dapat digambarkan seperti berikut ini :
1. Identifikasi Data dan Informasi yang Dibutuhkan
Umumnya dalam pengembangan sebuah perpustakaan elektronik selalu bertitik tolak dari kondisi atau keadaan suatu perpustakaan konvensional. Ini disebabkan terutama dalam hal penyediaan data yang dibutuhkan oleh sebuah perpustakaan elektronik. Data yang umumnya tersedia dalam perpustakaan konvensional, mengalami perubahan format yaitu didisain kedalam format elektronik yang harus memiliki standar internasional sehingga dapat diakses oleh semua mesin pengakses (komputer).
Data yang berhubungan dengan item pustaka (bahan pustaka) dapat dibuat identifikasinya seperti berikut ini :
a. Buku
b. Majalah/buletin/jurnal
c. Juklak/juknis/form/SK.
d. Modul
e. Kertas kerja/laporan penelitian
f. Kliping
g. Brosur
h. Referensi
i. Audio visual
Sedangkan informasi yang dibutuhkan dari data-data di atas dapat dibuat kodifikasi atau penggolongan sesuai dengan kebutuhan atau yang berlaku di dalam perpustakaan pada umumnya, seperti :
a. Karya umum (bibliografi, ensiklopedi umum, jurnal, penerbitan dan surat kabar, dll.)
b. Filsafat dan psikologi
c. Agama
d. Ilmu-ilmu sosial (pendidikan, statistik, politik, ekonomi & manajemen, dll.)
e. Bahasa
f. Ilmu-ilmu murni (Pasti/Alam)
g. Ilmu-ilmu terapan (Teknologi)
h. Kesenian, hiburaan, olahraga
i. Kesusasteraan
j. Sejarah umum dan geografi
Dalam mengembangkan perpustakaan elektronik, selain data item pustaka seperti yang telah diuraikan di atas, masih perlu dibuat informasi data mengenai keanggotan, transaksi, jenis-jenis layanan (public service) yang akan diberikan, juga data mengenai statistik layanan perpustakaan elektronik.
a. Data yang berhubungan dengan keanggotaan, ini meliputi tipe / jenis keanggotaan serta biodata keanggotaannya. Tipe keanggotaan adalah bersifat terdaftar atau tidak terdaftar, individu atau atas nama instansi. Karakteristik dari anggota atau user, misalnya : siswa, mahasiswa, guru/dosen, karyawan departemen, peserta diklat, atau masyarakat umum. Sedangkan biodata yang dibutuhkan adalah seperti; nama, nomor ID, instansi/kantor, alamat rumah/kantor, kota, kode pos, telepon serta fax rumah/kantor, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.
b. Data yang berhubungan dengan transaksi perpustakaan dimaksudkan adalah data yang berhubungan dengan sirkulasi misalnya tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, denda, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.
c. Data yang berhubungan dengan public service, yang dimaksud adalah data mengenai promosi serta pengembangan sumber daya manusia baik bagi user (anggota) maupun bagi pengelola perpustakaan elektronik itu sendiri, konsultasi, seminar, pelatihan, kemudahan memperoleh materi dari item pustaka misalnya bisa dibeli, dicopy, diantar, atau melalui fasilitas download melalui internet, e-mail, dan lain-lain. Sedangkan data yang berhubungan dengan pengembangan sumberdaya manusia untuk kebutuhan seminar/pelatihan seperti : nama kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, jadwal acara, sponsor, biaya, dan lain-lain.
d. Data yang berhubungan dengan statistik adalah data yang bersifat output seperti data jumlah pengunjung, jumlah item yang dipinjam, jumlah item yang paling banyak dicari, jumlah item yang dicari tetapi tidak ada, dan lain-lain. Data ini dapat digunakan untuk membuat suatu laporan secara periodik atau berkala, misalnya grafik pengunjung (visitor), grafik peminjaman item pustaka, dan lain-lain.
2. Struktur Data dan Standar Kepustakaan
Dari uraian dan identifikasi data di atas tadi, maka selanjutnya dibuatlah struktur dari masing-masing data ke dalam format pembuat database. Pada bagian ini prosesnya akan memakan waktu yang cukup banyak, karena akan melalui langkah-langkah yang berurutan yang harus dilakukan. Pekerjaan dimulai dengan pembuatan lembar kerja (worksheet), pengisian lembar kerja yaitu pemindahan semua data yang akan dibuat databasenya ke lembar ini, selanjutnya yang terakhir adalah pemasukan (input) ke dalam mesin (komputer) pembuat database. Ini semua bisa dilakukan setelah perangkat lunak (software) dipilih sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini disajikan struktur database yang dirancang untuk kebutuhan katalog elektronik untuk item pustaka (klas) untuk jenis buku, maka field-field untuk database yang harus tersedia adalah sebagai berikut:
a. Nomor panggil/ Nomor klas
b. Nomor ISBN
c. Nama pengarang
d. Judul
e. Impresum (tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit)
f. Kolasi (jumlah halaman, ilustrasi, dimensi)
g. Keterangan seri
h. Catatan (umum, biblioggrafi, isi)
i. Tajuk subyek
j. Tajuk tambahan
k. Sumber/lokasi
l. Keyword (kata kunci)
m. Abstark
Untuk item klas selain bahan cetakan dapat dibuat field-field database sesuai dengan karakteristik masing-masing bahan pustaka, seperti untuk audio visual field database yang dibutuhkan adalah :
a. Nomor panggil/ Nomor klas
b. Sutradara/penanggungjawab program
c. Produser
d. Judul
e. Durasi (waktu putar)
f. Copyright/hak cipta
g. Sumber/lokasi
h. Deskripsi fisik
i. Seri
j. Catatan
k. Tajuk subyek
l. Tajuk tambahan
m. Keyword (kata kunci)
n. Abstrak
3. Pelayanan
Dalam perpustakaan konvensional bagian sirkulasi adalah bagian yang paling bertanggung jawab terhadap proses penggunaan bahan pustaka. Pemakai (user) akan selalu melewati bagian ini untuk kebutuhan peminjaman dan permintaan salinan materi pustaka. Di bagian ini akan ditemui data mengenai jumlah pengunjung, jumlah koleksi yang dipinjam, jumlah koleksi yang paling banyak/sering dipinjam, jumlah koleksi yang belum kembali, data mengenai anggota yang mendapat denda, dan sebagainya. Pada perpustakaan elektronik hal-hal seperti ini tetap ada, hanya tidak akan tampak hiruk-pikuk seperti pada perpustakaan konvensional. Fungsi ini akan ditemukan di dalam perpustakaan elektronik pada bagian atau divisi statistik.
Pada proses pelayanan yang digambarkan di atas ada sesuatu yang selalu dilalui oleh pemakai (user) yaitu yang disebut user interface. User interface merupakan jembatan antara user dengan sistem yang dijalankan sebuah perpustakaan elektronik. Proses dimulai dengan pertanyaan user, apa yang akan dilakukan user dan darimana user akan memulainya. Pada tingkat ini pengalaman dan pengetahuan user akan membantu proses interaksi antara user dengan sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik. Kondisi user dapat dibedakan antara yang sudah melek komputer atau mengerti tentang katalog dan user yang buta komputer serta belum memahami katalog.
Dalam proses pencarian dan penelusuran informasi memang ada user yang sungguh-sungguh mencari sesuatu informasi, tetapi terkadang ada user yang hanya sekedar browsing untuk mengetahui berbagai fasilitas layanan yang diberikan. Untuk itu sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik harus dapat memberikan petunjuk dan informasi yang lengkap sebagai alat bantu (help). Berbagai program bantu saat ini banyak ditemui dalam bentuk quick tour. Yang harus disadari adalah bahwa suatu sistem yang dijalankan tidak mungkin akan menjawab semua kebutuhan user, untuk itu sebuah search engine yang baik harus meyediakan berbagai alternatif penelusuran misalnya hanya dengan memasukkan sebuah kata kunci (keyword).
Pada pembahasan data dan informasi yang dibutuhkan di atas telah disinggung mengenai data-data untuk public service, maka pada pembahasan mengenai pelayanan akan dibahas mengenai berbagai fasilitas yang mungkin perlu disediakan seperti terlihat pada bagan di bawah ini :
4. Jaringan dan Sistem Pengamanan
Sebuah jaringan yang baik akan menentukan sebuah sistem informasi berjalan dengan baik pula. Di sini belum dibicarakan mengenai perangkat keras dan perangkat lunak yang akan mendukung jaringan dalam suatu sistem informasi. Jaringan akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan tentunya menyangkut anggaran biaya yang tersedia disamping kemauan institusi yang bersangkutan. Pada bagian ini akan diinformasikan sebatas pada hal-hal yang berhubungan dengan aspek pengamanan jika mau mengembangkan sebuah perpustakaan elektronik. Pengamanan mencakup lingkup pengamanan data yang berupa pengamanan data elektronik, fasilitas fisik, dan prosedur kerja.
Pengamanan data elektronik mencakup disemua aspek seperti pada bagan di atas. Pada sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik hanya yang berwenang yang memiliki akses ke dalam data dengan fasilitas fastword yang dimilikinya. Campur tangan bagian lain yang bukan wewenangnya akan menjadikan keamanan data kurang dapat dijamin dengan baik.
Pengamanan yang berhubungan dengan fasilitas fisik akan menjadikan sistem dan jaringan akan terpelihara dengan baik, dimana di dalamnya tersimpan data. Ini merupakan pengamanan terhadap seluruh investasi biaya yang telah dikeluarkan untuk menjalankan sebuah perpustakaan elektronik.
Sedangkan pengamanan yang berhubungan dengan prosedur kerja seperti terlihat pada bagan di atas berlaku untuk pengelola sebuah perpustakaan elektronik. Ini terkait dengan manajemen yang akan dijalankan oleh perpustakaan elektronik tersebut. Dalam menjalankan perpustakaan elektronik akan banyak menemukan permasalahan hukum terutama dengan masalah hak cipta (copyright) yang hingga saat ini menjadi masalah yang terkadang kurang mendapat perhatian yang serius. Untuk ini perlu ditetapkan kode etik dan hukum untuk mengantisipasi langkah ke depan.
5. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sebuah perpustakaan elektronik sangan membutuhkan sumber daya manusia yang handal dan teruji. Ini akan mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti terlihat pada daftar berikut ini :
a. Analis sistem (tim multidisiplin)
b. Software engineer
c. Programer
d. Database administrator
e. Network administrator
f. Teknisi
g. Operator
Seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan belum cukup handal untuk mengembangkan sebuah perpustakaan elektronik. Untuk menjadi seorang analis sistem, seorang pustakawan harus melengkapi dirinya dengan kemampuan di bidang komputer. Inipun harus ditunjang oleh beberapa ahli dari disiplin ilmu yang lain, seperti ahli komunikasi, ahli teknologi pendidikan, dan lain-lain.


B. Kondisi Umum Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari
Perpustakaan yang dijadikan objek penelitian adalah Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari dengan nomor NSS 201021423052 P yang beralamat di jalan Pasirjengkol nomor 132 Telp. (0265) 650039 Banjarsari Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat.

1. Jenis dan Status Perpustakaan

a. Jenis Perpustakaan
Perpustakaan ini termasuk perpustakaan sekolah yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, memelihara, mengatur dan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan pengajaran dan pendidikan di SLTP Negeri 1 Banjarsari.
Fungsi dari Perpustakaan ini adalah sebagai pusat kegiatan belajar dan mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat membaca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.
Perpustakaan ini bertujuan untuk memenuhi kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler, merangsang keinginan dan membangkitkan minat serta kebiasaan membaca guna memperkaya ilmu pengetahuan dan membantu pengembangan bakat siswa. Perpustakaan ini juga dapat menunjang setiap kegiatan mata pelajaran, menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga pelaksanaan kegiatan kurikulum dapat lebih sempurna, sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan.

b. Status Perpustakaan
Status perpustakaan ini di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Hanya secara organisatoris pembinaan secara umum untuk SLTP adalah Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat melalui KPPS (koordinator Pembinaan Perpustakaan Sekolah) yang pada tingkat pusat adalah Ditjen Dikdasmen Diknas.

2. Struktur Organisasi Mikro
Struktur organisasi secara mikro adalah struktur organisasi yang menggambarkan kedudukan setiap kegiatan kerja dalam keseluruhan organisasi perpustakaan sekolah. Adapun struktur organisasi secara mikro di Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ini dapat digambarkan seperti berikut ini.
a. Bagan Organisasi Mikro Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari









Kepala Bagian Perpustakaan
Drs. Syaefudin Zuhri


Urusan Tata Usaha



Subag Teknis


Pelayanan
Yoyoh



Pengolahan
Aan Juansyah
Wiwin Setiawati
Pengadaan
Aris Wahyu



b. Penjelasan Tata Kerjanya
1. Kepala Bagian Perpustakaan
a) Bertugas dan bertanggung jawab penuh tentang penyelenggaraan dan pengolahan seluruh unit perpustakaan sekolah
b) Mengorganisir dan mengkoordinir tata kerja dan tata hubungan seluruh staf perpustakaan sekolah
c) Menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan intern yang khusus dalam bidangnya.


2. Sub Bagian Pengelolaan
a) Membuat registrasi
b) Membuat kartu katalog
c) Kartu buku, kantong kartu buku, kartu tanggal dan sebagainya
d) Mengklasifikasikan bahan pustaka
3. Sub Bagian Pengadaan
a) Menambah koleksi perpustakaan
b) Menyusun perencanaan pengadaan bahan pustaka
c) Memilih bahan pustaka
d) Memesan bahan pustaka
e) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain
f) Inventarisasi buku-buku baru
4 Sub Bagian Pelayanan
a) Memberikan pelayanan kepada anggota perpustakaan
b) Memberi petunjuk langsung kepada pengunjung tentang bagaimana menggunakan katalogus, mencari buku di rak mencari informasi tertentu yang dicari, cara membaca yang baik, menggunakan buku agar fisik buku tidak lekas rusak.
c) Menata ruangan
d) Melaksanakan pengadministrasian kegiatan teknis pelayanan / layanan pengunjung
e) Membuat statistik dan pengolahan data perpustakaan.
c. Struktur Organisasi Makro
Struktur organisasi secara makro adalah struktur organisasi yang menggambarkan kedudukan perpustakaan dalam organisasi sekolah. Perpustakaan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam struktur organisasi. Adapun struktur organisasi secara makro di SMP Negeri 1 Banjarsari ini dapat digambarkan seperti berikut ini.

Bagan Struktur Organisasi Makro SMP Negeri 1 Banjarsari


Komite Sekolah
Kepala Sekolah

Dinas Pendidikan



Urusan Tata Usaha Sekolah




Bagian Kesiswaan
Bagian Kurikulum
Bagian Pengabdian Masyarakat
Bagian Perpustakaan Sekolah



Koordinator BP/BK
G u r u




S i s w a




d. Ketenagaan / Petugas Perpustakaan

Tenaga atau petugas Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari berjumlah lima orang. Empat orang berstatus sebagai guru dan satu orang tenaga sukarelawan. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini.

No Nama Jabatan Status Latar Belakang Pendidikan
1. Drs. Syaefudin Kabag perpustakaan Guru Bahasa Indonesia
2. Aan Juansyah Bag. Pengolahan Guru PPKn
3. Aris Wahyu Bag. Pengadaan Guru Bahasa Indonesia
4. Wiwin Setiawati Bag. Pengolahan Guru Bahasa Inggris
5. Ai Herna Bag. Pelayanan Sukwan PGSD

e. Sumber Dana

Agar perpustakaan sekolah sesuai dengan yang diharapkan, maka pendanaannya harus memadai, mengingat peranan perpustakaan dalam pendidikan sangat penting. Pada hakikatnya perpustakaan sekolah merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari organisasi sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu, sumber dana perpustakaan sekolah dapat berasal dari anggaran rutin. Adapun sumber dana Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari diperoleh dari iuran anggota, S P P, B P 3, Bantuan lain yang sifatnya tidak tetap dan tidak mengikat, Dendaan dari pelanggaran batas waktu peminjaman buku.
Dana yang diperoleh oleh Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari perpustakaan itu sendiri. Penggunaan dana ini dapat dilihat dari uraian berikut ini.
1) Belanja buku : 70 %
2) Langganan majalah / surat kabar : 10 %
3) Pemeliharaan Koleksi : 7 %
4) Administrasi Perpustakaan : 5 %
5) Pembinaan Profesi : 5 %
6) Cadangan : 3 %
Persentase penggunaan dana perpustakaan tersebut sudah dipertimbangkan dengan keadaan siswa, keadaan guru, jumlah koleksi yang ada dan intensitas penggunaan atau pelayanan.
f. Perlengkapan dan Peralatan Perpustakaan
Perlengkapan dan Peralatan yang dimiliki oleh Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari adalah sebagai berikut.
1) Ruangan
Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari menggunakan ruangan berupa kelas dengan ukuran 8 m x 15 m = 120 m², memiliki penerangan yang cukup dan ruangan yang utuh tidak terpisah-pisah. Kapasitas ruangan ini untuk menampung 40 orang pengunjung.
2) Peralatan perpustakaan
Macam-macam peralatan yang dimiliki Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No. Nama Alat Jumlah
1. Rak buku 4
2. Tempat surat kabar 1
3. Lemari buku 7
4. Meja sirkulasi 1
5. Meja baca kelompok 2
6. Meja belajar perorangan 2
7. Kabinet kartu katalog 1
8. Kursi baca 30
9. Meja Petugas 4

3) Perlengkapan
Perlengkapan yang ada di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari adalah sebagai berikut.
f) Buku inventaris koleksi buku
g) Buku inventaris koleksi bukan buku
h) Cap perpustakaan
i) Bantalan cap
j) Buku klasifikasi
k) Komputer
l) Kertas label
m) Selotip
n) Formulir kartu buku
o) Formulir lembaran tanggal kembali
p) Kantong kartu buku
q) Lem
r) Perlengkapan penjilidan
g. Kegiatan Teknis Perpustakaan
Kegiatan teknis Perpustakaan meliputi :
1) Pengadaan bahan pustaka (akuisisi)
Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari meliputi beberapa tahap :
a) tahap perencanaan
Setiap akan melaksanankan kegiatan pengadaan bahan pustaka, para petugas Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari selalu bermusyawarah untuk merencanakan buku apa saja yang akan dijadikan sebagai bahan koleksinya. Tentu saja dengan mempertimbangkan setiap kebutuhan siswa, sehingga diharapkan setiap bahan pustaka dapat meningkatkan kualitas pendidikan seluruh siswa.
b) Tahap pemilihan
Kriteria pemilihan bahan pustaka untuk Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari dilihat dari segi isi dan pengarangnya. Adapun alat pemilihannya menggunakan daftar buku beranotasi dengan rekomendasi dan brosur yang memuat daftar buku / bahan pustaka yang diterbitkan oleh penerbit.
c) Tahap pemesanan
Setelah menentukan buku-buku / bahan pustaka yang dipilih biasanya perpustakaan ini memesan buku / bahan pustakanya langsung kepada penerbitnya atau salah seorang petugas perpustakaan mencarinya langsung ke toko-toko buku.
2) Registrasi dan Inventarisasi Bahan Pustaka
Registrasi dan inventarisasi sudah dilaksanakan di perpustakaan ini dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Setiap pesanan buku-buku atau bahan pustaka diterima biasanya dicek terlebih dahulu apakah ada yang rusak atau tidak serta apakah buku / bahan pustaka yang diterima sesuai dengan pesanan atau tidak.
b) Setelah selesai pengecekan buku / bahan pustaka distempel pada bagian awal, tengah dan akhir buku.
c) Buku / bahan pustaka diberi nomor induk secara berurutan mulai dari nomor 1, 2, 3, 4, ….dst. Nomor induk buku ini ditulis pada halaman judul dan di bagian samping buku.
d) Mendaftarkan buku / bahan pustaka ke dalam buku induk. Untuk majalah dan surat kabar belum didaftarkan kardeks.
3) Katalogisasi
Di Perpustakaan ini katalogisasi belum dilaksanakan.

4) Klasifikasi
Sistem klasifikasi yang digunakan di SMP Negeri 1 Banjarsari adalah sistem DDC (Dewey Desimal Classification). Namun penyimpanan buku di rak buku belum sesuai dengan klasifikasinya. Hal ini disebabkan karena pengetahuan siswa tentang klasifikasi buku masih rendah sehingga sewaktu menyimpan buku yang telah dibacanya tidak pada rak buku yang sesuai dengan klasifikasinya.
5) Pelayanan
a. Sistem pelayanan
Sistem pelayanan pengunjung di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari bersifat terbuka. Diperpustakaan ini pengunjung diperkenankan langsung memilih buku / bahan pustaka yang tersedia di rak buku dan mengambilnya sendiri untuk dibaca di ruang baca atau membawanya ke bagian sirkulasi untuk dipinjam pulang atau keluar perpustakaan. Setelah selesai dibaca di ruang baca, mereka harus mengembalikan sendiri buku / bahan pustaka tersebut ke tempat semula.
b. Waktu kegiatan
Waktu kegiatan perpustakaan yang disediakan bagi pengunjung (siswa) untuk membaca atau meminjam buku adalah sebagai berikut.
1) Senin sampai dengan Kamis mulai pukul 07.00 s.d. pukul 13.30
2) Jumat mulai pukul 07.00 s.d. 11.00
3) Sabtu mulai pukul 07.00 s.d. 12.45
6) Administrasi pelayanan / peminjaman
Administrasi pelayanan / peminjaman yang digunakan adalah sebagai berikut.

a. Tanda atau label buku yang ditempatkan pada punggung buku
b. Kartu buku yang berisi identitas buku
c. Kantong buku tempat kartu buku yang ditempelkan dibagian belakang bagian dalam.
d. Kartu tanda anggota
e. Buku peminjaman bahan pustaka (berukuran lebar 8 cm dan panjang 10 cm) yang didalamnya terdapat identitas anggota atau siswa yang dilengkspi pas foto (pengganti kartu anggota), catatan mengenai nomor kode buku yang dipinjam dan tanggal kembali (pengganti kartu peminjaman), kantong buku. Buku peminjaman ini dimiliki oleh seluruh siswa dan apabila ingin meminjam buku di perpustakaan ini buku tersebut harus dibawa.
f. Kartu buku
g. Lembaran tanggal kembali.
h. Kotak pengontrol pengembalian buku

7) Pemanfaatan perpustakaan
Para siswa sudah dapat memanfaatkan perpustakaannya sebagai sumber belajar dan sumber informasi guna memperluas cakrawala pengetahuan, penguasaan keterampilan, penyerapan dan pengembangan nilai dan sikap hidupnya.



8) Keanggotaan
a. Jumlah anggota perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari tahun pelajaran 2003 / 2004 sebanyak 1200 orang siswa.
b. Jumlah pengunjung pada tahun 2003 sebanyak 13.360 orang.
c. Jumlah peminjam pada tahun 2003 sebanyak 4.321 orang
d. Jumlah buku yang dipinjam
1) buku paket sebanyak 8.840 eksemplar
2) buku fiksi sebanyak 593 eksemplar
3) buku non fiksi sebanyak 284 eksemplar
4) non buku (Koran ) 145

C. Upaya-upaya Kearah Pengembangan Perpustakaan Elektronik
Mendesain data elektronik :
1. Langkah yang pertama adalah menata disain Home Page SMP Negeri 1 Banjarsari yang memasukkan komponen perpustakaan yang bisa diakses melalui internet.
2. Pengembangan buku elekronik yang saat ini sudah berada di Home Page SMP Negeri 1 Banjarsari dan sudah dapat diakses melalui internet.
3. Pengembangan program CAI untuk jenjang SMP yang saat ini sudah ada seperti CAI Fisika dan Matematika untuk dilanjutkan dengan bidang studi yang lain. Ini cukup memungkinkan karena di SMP Negeri 1 Banjarsari sudah memiliki fasilitas untuk presentasi multimedia.
4. Pembuatan database katalog dari koleksi (item pustaka) sebagai katalog elektronik di perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari sebagai upaya pengembangan koleksi perpustakaan.
5. Pembuatan resensi bahan pustaka (item pustaka) menjadi data elektronik sebagai informasi awal untuk penelusuran bagi pengguna perpustakaan sebelum memperoleh sumber yang asli di tempat penyimpanan perpustakaan.
D. Pembuatan jaringan perpustakaan di tingkat kompleks sekolah (intranet):
1. Sekolah harus memiliki jaringan (LAN) fasilitas jaringan ditambah hingga ke ruang-ruang perpustakaan sekolah yang berada di areal komplek tersebut. dapat dibuatkan koneksi jaringan dari perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ke sekolah-sekolah lainnya.
2. Sekolah membuat kumpulan database dari perpustakaan dan ditempatkan pada sebuah server sehinga dapat diakses oleh pemakai di sekolah tersebut.
Upaya akhir dari pengembangan perpustakaan elektronik adalah terbentuknya jaringan perpustakaan di lingkungan SMP Negeri 1 Banjarsari. Jika ini terealisasi maka berbagai manfaat akan diperoleh dari upaya-upaya ini, seperti :


Bagi Siswa :
1. Penyediaan sumber-sumber pengetahuan untuk pengerjaan tugas-tugas bidang studi.
2. Kemudahan informasi melaui internet.
3. Kemudahan informasi dari koleksi buku (item pustaka) yang ada di perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari.
4. Dapat langsung mencetak materi yang dibutuhkan dari sumber tersebut.
Bagi Guru :
1. Dapat meningkatkan wawasan pengetahuan guru bidang studi, akses ke internet, akses ke resensi buku (koleksi perpustakaan), dan lain-lain.
2. Mempermudah guru dalam mendisain media pembelajaran dengan tersedianya sumber-sumber materi yang mudah diperoleh melalui komputer.






BAB III
PENUTUP

Perpustakaan sebagai salah satu sistem informasi memiliki peran yang vital dalam usaha pengumpulan, pengelolaan dan penyebaran informasi kepada masyarakat yang membutuhkannya, ini sesuai dengan salah satu fungsi perpustakaan yaitu fungsi informasi 1) Tetapi dalam kehidupan saat ini, dimana perubahan terjadi dengan sangat cepat, tuntutan masyarakat terhadap kecepatan akses terhadap informasi semakin meningkat, hal ini harus diantisipasi oleh perpustakaan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tersebut dengan baik perpustakaan harus berbenah, seperti dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan teknologi infommasi (teknologi komputer dan telekomunikasi) untuk mendukung operasional kegiatan perpustakaan.
Makalah sederhana ini mencoba untuk memberikan altarnatif bagi jaringan perpustakaan masa depan di Indonesia, dengan mengacu kepada kondisi objektif yang ada di Indonesia serta perkembangan, teknologi khususnya teknologi informasi dan.penerapannya di perpustakaan sekarang ini dan antisipasi terhadap 'trend,' perpustakaan di masa mendatang. Tulisan ini tidak berdasarkan pada penelitian yang mendalam melainkan berangkat dari pengamatan penulis terhadap perkembangan perpustakaan, berdasarkan literatur yang sangat terbatas dan pengetahuan yang sangat minim yang penulis peroleh selama menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Perpustakaan ini. Sehingga diperlukan penelitian lebih

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah bagian integral dari lembaga pendidikan tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematik untuk digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber bahan informasi, dalam rangka menunjang program belajar dan mengajar.
Tujuan penyelenggaraan perpustakaan ini adalah untuk menunjang program belajar mengajar agar tujuan umum dan khusus pendidikan bisa tercapai secara optimal.
Disamping itu perpustakaan ini juga berperan sebagai salah satu sarana pendidikan yang bersifat teknis edukatif dan bersama-sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya ikut menentukan berhasilnya proses pendidikan.
Fungsi pokok perpustakaan ini adalah memberikan pelayanan informasi untuk menunjang program belajar dan mengajar, baik dalam usaha pendalaman dan penghayatan pengetahuan, penguasaan keterampilan maupun penyerapan dan pengembangan nilai dan sikap hidup siswa.
Namun perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Kecepatan memperoleh informasi juga menjadi salah satu ciri dari situasi ini. Tidak hanya kemudahan dalam memperoleh informasi, tapi juga harga atau modal yang mahal yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan informasi tersebut. Kebutuhan akan informasi sangat dirasakan oleh setiap personalia yang ada di lingkungan pendidikan baik guru maupun siswa sebagai peserta didik. Siswa sebagai salah satu aset institusi yang penting haruslah mendapatkan prioritas dalam mendapatkan informasi terutama yang berkaitan dengan kegiatan belajar mereka
Kegiatan belajar mengajar sebagai suatu proses komunikasi akan berjalan dengan baik jika ditunjang dengan unsur-unsur komunikasi yang baik pula, seperti sumber informasi, saluran informasi, dan penerima informasi. Perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi akan sangat bermanfaat jika ternyata mampu menyediakan berbagai pesan yang dibutuhkan oleh user (pengguna), guru, siswa, karyawan sekolah, dan lain-lain. Penyediaan informasi yang lengkap melalui perpustakaan sekolah akan sangat membantu siswa dalam proses belajarnya. Selain itu guru pun dapat memanfaatkan perpustakaan terutama untuk memperoleh sumber-sumber pengetahuan baru yang sangat berguna bagi peningkatan kemampuannya.
Pepustakaan yang berada di setiap sekolah dan tersebar di berbagai komplek merupakan aset yang sangat penting pula. Hanya kondisi perpustakaan yang ada saat ini masih bersifat konvensional. Tanpa kehadiran (user) pengguna di perpustakaan, informasi dari bahan pustaka tidak dapat diperoleh pengguna. Artinya pengelolaan dan pelayanan perpustakaan masih bersifat manual. Dengan perkembangan teknologi informasi yang terjadi dewasa ini, perpustakaan dapat diubah dalam segi penyediaan informasi, pengelolaan serta pelayanannya melalui perangkat elektronis yaitu komputer. Ini yang biasa disebut dengan elektronic library atau perpustakaan elektronik. Kecepatan dan kemudahan memperoleh informasi akan menjadi ciri sebuah perpustakaan elektronik, sehingga akan menghilangkan hambatan waktu, jarak dan ruang atau tempat. Hal ini merupakan perkembangan yang lebih jauh setelah.
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
1. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
2. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya.

B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah e-library ini adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai
2. Mengembangkan komunikasi ilmiah (science communication)
3. Meningkatkan kompetensi nanajerial dan kepemimpinan (leadership) berbasis informasi.
4. Perpustakaan digital sangat penting terutama untuk mengatasi kendala tempat koleksi buku, jarak dan waktu.
5. Menanamkan budaya jaminan mutu, etos kerja dan nilai kerja pada setiap kegiatan perpustakaan.
6. Mempermudah dalam memanajemen koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran informasi.















BAB II
PEMBAHASAN

A. Lebih Jauh Tentang Electronic Library (Perpustakaan Elektronik)
Electronic Library atau perpustakaan elektronik atau juga dikenal dengan perpustakaan maya adalah sebuah sistem informasi yang terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), pengelolaan, pelayanan serta penyediaan (akses) informasinya dilakukan dengan menggunakan perangkat elektronis yang berupa komputer. Jika dalam perpustakaan konvensional, bahan-bahan pustaka tersimpan dalam rak-rak penyimpanan dengan kodifikasi (DDC = Dewey Decimal Classification), tersedia meja/laci katalog untuk penelusuran bahan pustaka, ada bagian sirkulasi, ada ruang baca, dan lain-lain. Dalam perpustakaan elektronik, komponen-komponen tersebut tetap ada dalam pengertian tersedia tetapi tidak hadir dalam bentuk fisik (disebut maya) yang umumnya ada dalam perpustakaan konvensional. Perpustakaan elektronik merupakan provider atau penyedia informasi, transaksi atau layanan informasinya bersifat elektronik, serta menyediakan bahan-bahan pustaka (item) selain dalam bentuk data elektronik juga dalam bentuk yang lain seperti yang umumnya ada dalam perpustakaan konvensional.
Perpustakaan elektronik merupakan salah satu alternatif dalam menyediakan sumber informasi untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh (distance learning), mengingat user atau pengguna perpustakaan berada di tempat yang tidak diketahui keberadaannya. Ini dimungkinkan dengan adanya teknologi internet yang sudah berkembang dengan sangat pesat dewasa ini.
User dalam memperoleh informasi, selain menggunakan saluran elektronis seperti melalui komputer dan telepon juga dapat memperolehnya melalui layanan lain seperti melalui jaringan layanan pos atau user juga bisa datang langsung ke tempat di mana sumber informasi tersebut berada.
Dalam perpustakaan konvensional, organisasi perpustakaan biasanya terdiri dari kepala perpustakaan, bagian/divisi pengadaan, bagian pengolahan, bagian sirkulasi, bagian referensi, dan lain-lain. Pada perpustakaan elektronik bagian atau divisi umumnya masih seperti perpustakaan konvensional. Tetapi untuk sebuah perpustakaan elektronik, divisi atau bagian yang minimal harus ada adalah bagian yang mengurus tentang hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak), divisi pengadaan, dan divisi/bagian pelayanan. Yang membedakan kedua perpustakaan itu adalah sifat pekerjaan dari masing-masing bagian/divisi yang ditanganinya. Untuk perpustakaan elektronik sesuai dengan ciri dari perpustakaan elektronik itu sendiri yang menyediakan data dan pelayanan elektronik, maka fungsi dari masing-masing bagianpun tidak akan terlepas dari perangkat elektronik.
Untuk lebih memberikan gambaran lebih jelas lagi, perpustakaan elektronik sebagai suatu sistem informasi, bagaimana keterkaitan dan hubungan yang terjadi antar komponen dalam sebuah perpustakaan elektronik dapat digambarkan seperti berikut ini :
1. Identifikasi Data dan Informasi yang Dibutuhkan
Umumnya dalam pengembangan sebuah perpustakaan elektronik selalu bertitik tolak dari kondisi atau keadaan suatu perpustakaan konvensional. Ini disebabkan terutama dalam hal penyediaan data yang dibutuhkan oleh sebuah perpustakaan elektronik. Data yang umumnya tersedia dalam perpustakaan konvensional, mengalami perubahan format yaitu didisain kedalam format elektronik yang harus memiliki standar internasional sehingga dapat diakses oleh semua mesin pengakses (komputer).
Data yang berhubungan dengan item pustaka (bahan pustaka) dapat dibuat identifikasinya seperti berikut ini :
a. Buku
b. Majalah/buletin/jurnal
c. Juklak/juknis/form/SK.
d. Modul
e. Kertas kerja/laporan penelitian
f. Kliping
g. Brosur
h. Referensi
i. Audio visual
Sedangkan informasi yang dibutuhkan dari data-data di atas dapat dibuat kodifikasi atau penggolongan sesuai dengan kebutuhan atau yang berlaku di dalam perpustakaan pada umumnya, seperti :
a. Karya umum (bibliografi, ensiklopedi umum, jurnal, penerbitan dan surat kabar, dll.)
b. Filsafat dan psikologi
c. Agama
d. Ilmu-ilmu sosial (pendidikan, statistik, politik, ekonomi & manajemen, dll.)
e. Bahasa
f. Ilmu-ilmu murni (Pasti/Alam)
g. Ilmu-ilmu terapan (Teknologi)
h. Kesenian, hiburaan, olahraga
i. Kesusasteraan
j. Sejarah umum dan geografi
Dalam mengembangkan perpustakaan elektronik, selain data item pustaka seperti yang telah diuraikan di atas, masih perlu dibuat informasi data mengenai keanggotan, transaksi, jenis-jenis layanan (public service) yang akan diberikan, juga data mengenai statistik layanan perpustakaan elektronik.
a. Data yang berhubungan dengan keanggotaan, ini meliputi tipe / jenis keanggotaan serta biodata keanggotaannya. Tipe keanggotaan adalah bersifat terdaftar atau tidak terdaftar, individu atau atas nama instansi. Karakteristik dari anggota atau user, misalnya : siswa, mahasiswa, guru/dosen, karyawan departemen, peserta diklat, atau masyarakat umum. Sedangkan biodata yang dibutuhkan adalah seperti; nama, nomor ID, instansi/kantor, alamat rumah/kantor, kota, kode pos, telepon serta fax rumah/kantor, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.
b. Data yang berhubungan dengan transaksi perpustakaan dimaksudkan adalah data yang berhubungan dengan sirkulasi misalnya tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, denda, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.
c. Data yang berhubungan dengan public service, yang dimaksud adalah data mengenai promosi serta pengembangan sumber daya manusia baik bagi user (anggota) maupun bagi pengelola perpustakaan elektronik itu sendiri, konsultasi, seminar, pelatihan, kemudahan memperoleh materi dari item pustaka misalnya bisa dibeli, dicopy, diantar, atau melalui fasilitas download melalui internet, e-mail, dan lain-lain. Sedangkan data yang berhubungan dengan pengembangan sumberdaya manusia untuk kebutuhan seminar/pelatihan seperti : nama kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, jadwal acara, sponsor, biaya, dan lain-lain.
d. Data yang berhubungan dengan statistik adalah data yang bersifat output seperti data jumlah pengunjung, jumlah item yang dipinjam, jumlah item yang paling banyak dicari, jumlah item yang dicari tetapi tidak ada, dan lain-lain. Data ini dapat digunakan untuk membuat suatu laporan secara periodik atau berkala, misalnya grafik pengunjung (visitor), grafik peminjaman item pustaka, dan lain-lain.
2. Struktur Data dan Standar Kepustakaan
Dari uraian dan identifikasi data di atas tadi, maka selanjutnya dibuatlah struktur dari masing-masing data ke dalam format pembuat database. Pada bagian ini prosesnya akan memakan waktu yang cukup banyak, karena akan melalui langkah-langkah yang berurutan yang harus dilakukan. Pekerjaan dimulai dengan pembuatan lembar kerja (worksheet), pengisian lembar kerja yaitu pemindahan semua data yang akan dibuat databasenya ke lembar ini, selanjutnya yang terakhir adalah pemasukan (input) ke dalam mesin (komputer) pembuat database. Ini semua bisa dilakukan setelah perangkat lunak (software) dipilih sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini disajikan struktur database yang dirancang untuk kebutuhan katalog elektronik untuk item pustaka (klas) untuk jenis buku, maka field-field untuk database yang harus tersedia adalah sebagai berikut:
a. Nomor panggil/ Nomor klas
b. Nomor ISBN
c. Nama pengarang
d. Judul
e. Impresum (tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit)
f. Kolasi (jumlah halaman, ilustrasi, dimensi)
g. Keterangan seri
h. Catatan (umum, biblioggrafi, isi)
i. Tajuk subyek
j. Tajuk tambahan
k. Sumber/lokasi
l. Keyword (kata kunci)
m. Abstark
Untuk item klas selain bahan cetakan dapat dibuat field-field database sesuai dengan karakteristik masing-masing bahan pustaka, seperti untuk audio visual field database yang dibutuhkan adalah :
a. Nomor panggil/ Nomor klas
b. Sutradara/penanggungjawab program
c. Produser
d. Judul
e. Durasi (waktu putar)
f. Copyright/hak cipta
g. Sumber/lokasi
h. Deskripsi fisik
i. Seri
j. Catatan
k. Tajuk subyek
l. Tajuk tambahan
m. Keyword (kata kunci)
n. Abstrak
3. Pelayanan
Dalam perpustakaan konvensional bagian sirkulasi adalah bagian yang paling bertanggung jawab terhadap proses penggunaan bahan pustaka. Pemakai (user) akan selalu melewati bagian ini untuk kebutuhan peminjaman dan permintaan salinan materi pustaka. Di bagian ini akan ditemui data mengenai jumlah pengunjung, jumlah koleksi yang dipinjam, jumlah koleksi yang paling banyak/sering dipinjam, jumlah koleksi yang belum kembali, data mengenai anggota yang mendapat denda, dan sebagainya. Pada perpustakaan elektronik hal-hal seperti ini tetap ada, hanya tidak akan tampak hiruk-pikuk seperti pada perpustakaan konvensional. Fungsi ini akan ditemukan di dalam perpustakaan elektronik pada bagian atau divisi statistik.
Pada proses pelayanan yang digambarkan di atas ada sesuatu yang selalu dilalui oleh pemakai (user) yaitu yang disebut user interface. User interface merupakan jembatan antara user dengan sistem yang dijalankan sebuah perpustakaan elektronik. Proses dimulai dengan pertanyaan user, apa yang akan dilakukan user dan darimana user akan memulainya. Pada tingkat ini pengalaman dan pengetahuan user akan membantu proses interaksi antara user dengan sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik. Kondisi user dapat dibedakan antara yang sudah melek komputer atau mengerti tentang katalog dan user yang buta komputer serta belum memahami katalog.
Dalam proses pencarian dan penelusuran informasi memang ada user yang sungguh-sungguh mencari sesuatu informasi, tetapi terkadang ada user yang hanya sekedar browsing untuk mengetahui berbagai fasilitas layanan yang diberikan. Untuk itu sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik harus dapat memberikan petunjuk dan informasi yang lengkap sebagai alat bantu (help). Berbagai program bantu saat ini banyak ditemui dalam bentuk quick tour. Yang harus disadari adalah bahwa suatu sistem yang dijalankan tidak mungkin akan menjawab semua kebutuhan user, untuk itu sebuah search engine yang baik harus meyediakan berbagai alternatif penelusuran misalnya hanya dengan memasukkan sebuah kata kunci (keyword).
Pada pembahasan data dan informasi yang dibutuhkan di atas telah disinggung mengenai data-data untuk public service, maka pada pembahasan mengenai pelayanan akan dibahas mengenai berbagai fasilitas yang mungkin perlu disediakan seperti terlihat pada bagan di bawah ini :
4. Jaringan dan Sistem Pengamanan
Sebuah jaringan yang baik akan menentukan sebuah sistem informasi berjalan dengan baik pula. Di sini belum dibicarakan mengenai perangkat keras dan perangkat lunak yang akan mendukung jaringan dalam suatu sistem informasi. Jaringan akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan tentunya menyangkut anggaran biaya yang tersedia disamping kemauan institusi yang bersangkutan. Pada bagian ini akan diinformasikan sebatas pada hal-hal yang berhubungan dengan aspek pengamanan jika mau mengembangkan sebuah perpustakaan elektronik. Pengamanan mencakup lingkup pengamanan data yang berupa pengamanan data elektronik, fasilitas fisik, dan prosedur kerja.
Pengamanan data elektronik mencakup disemua aspek seperti pada bagan di atas. Pada sistem yang dijalankan oleh sebuah perpustakaan elektronik hanya yang berwenang yang memiliki akses ke dalam data dengan fasilitas fastword yang dimilikinya. Campur tangan bagian lain yang bukan wewenangnya akan menjadikan keamanan data kurang dapat dijamin dengan baik.
Pengamanan yang berhubungan dengan fasilitas fisik akan menjadikan sistem dan jaringan akan terpelihara dengan baik, dimana di dalamnya tersimpan data. Ini merupakan pengamanan terhadap seluruh investasi biaya yang telah dikeluarkan untuk menjalankan sebuah perpustakaan elektronik.
Sedangkan pengamanan yang berhubungan dengan prosedur kerja seperti terlihat pada bagan di atas berlaku untuk pengelola sebuah perpustakaan elektronik. Ini terkait dengan manajemen yang akan dijalankan oleh perpustakaan elektronik tersebut. Dalam menjalankan perpustakaan elektronik akan banyak menemukan permasalahan hukum terutama dengan masalah hak cipta (copyright) yang hingga saat ini menjadi masalah yang terkadang kurang mendapat perhatian yang serius. Untuk ini perlu ditetapkan kode etik dan hukum untuk mengantisipasi langkah ke depan.
5. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sebuah perpustakaan elektronik sangan membutuhkan sumber daya manusia yang handal dan teruji. Ini akan mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti terlihat pada daftar berikut ini :
a. Analis sistem (tim multidisiplin)
b. Software engineer
c. Programer
d. Database administrator
e. Network administrator
f. Teknisi
g. Operator
Seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan belum cukup handal untuk mengembangkan sebuah perpustakaan elektronik. Untuk menjadi seorang analis sistem, seorang pustakawan harus melengkapi dirinya dengan kemampuan di bidang komputer. Inipun harus ditunjang oleh beberapa ahli dari disiplin ilmu yang lain, seperti ahli komunikasi, ahli teknologi pendidikan, dan lain-lain.


B. Kondisi Umum Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari
Perpustakaan yang dijadikan objek penelitian adalah Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari dengan nomor NSS 201021423052 P yang beralamat di jalan Pasirjengkol nomor 132 Telp. (0265) 650039 Banjarsari Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat.

1. Jenis dan Status Perpustakaan

a. Jenis Perpustakaan
Perpustakaan ini termasuk perpustakaan sekolah yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, memelihara, mengatur dan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan pengajaran dan pendidikan di SLTP Negeri 1 Banjarsari.
Fungsi dari Perpustakaan ini adalah sebagai pusat kegiatan belajar dan mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat membaca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.
Perpustakaan ini bertujuan untuk memenuhi kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler, merangsang keinginan dan membangkitkan minat serta kebiasaan membaca guna memperkaya ilmu pengetahuan dan membantu pengembangan bakat siswa. Perpustakaan ini juga dapat menunjang setiap kegiatan mata pelajaran, menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga pelaksanaan kegiatan kurikulum dapat lebih sempurna, sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan.

b. Status Perpustakaan
Status perpustakaan ini di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Hanya secara organisatoris pembinaan secara umum untuk SLTP adalah Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat melalui KPPS (koordinator Pembinaan Perpustakaan Sekolah) yang pada tingkat pusat adalah Ditjen Dikdasmen Diknas.

2. Struktur Organisasi Mikro
Struktur organisasi secara mikro adalah struktur organisasi yang menggambarkan kedudukan setiap kegiatan kerja dalam keseluruhan organisasi perpustakaan sekolah. Adapun struktur organisasi secara mikro di Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ini dapat digambarkan seperti berikut ini.
a. Bagan Organisasi Mikro Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari









Kepala Bagian Perpustakaan
Drs. Syaefudin Zuhri


Urusan Tata Usaha



Subag Teknis


Pelayanan
Yoyoh



Pengolahan
Aan Juansyah
Wiwin Setiawati
Pengadaan
Aris Wahyu



b. Penjelasan Tata Kerjanya
1. Kepala Bagian Perpustakaan
a) Bertugas dan bertanggung jawab penuh tentang penyelenggaraan dan pengolahan seluruh unit perpustakaan sekolah
b) Mengorganisir dan mengkoordinir tata kerja dan tata hubungan seluruh staf perpustakaan sekolah
c) Menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan intern yang khusus dalam bidangnya.


2. Sub Bagian Pengelolaan
a) Membuat registrasi
b) Membuat kartu katalog
c) Kartu buku, kantong kartu buku, kartu tanggal dan sebagainya
d) Mengklasifikasikan bahan pustaka
3. Sub Bagian Pengadaan
a) Menambah koleksi perpustakaan
b) Menyusun perencanaan pengadaan bahan pustaka
c) Memilih bahan pustaka
d) Memesan bahan pustaka
e) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain
f) Inventarisasi buku-buku baru
4 Sub Bagian Pelayanan
a) Memberikan pelayanan kepada anggota perpustakaan
b) Memberi petunjuk langsung kepada pengunjung tentang bagaimana menggunakan katalogus, mencari buku di rak mencari informasi tertentu yang dicari, cara membaca yang baik, menggunakan buku agar fisik buku tidak lekas rusak.
c) Menata ruangan
d) Melaksanakan pengadministrasian kegiatan teknis pelayanan / layanan pengunjung
e) Membuat statistik dan pengolahan data perpustakaan.
c. Struktur Organisasi Makro
Struktur organisasi secara makro adalah struktur organisasi yang menggambarkan kedudukan perpustakaan dalam organisasi sekolah. Perpustakaan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam struktur organisasi. Adapun struktur organisasi secara makro di SMP Negeri 1 Banjarsari ini dapat digambarkan seperti berikut ini.

Bagan Struktur Organisasi Makro SMP Negeri 1 Banjarsari


Komite Sekolah
Kepala Sekolah

Dinas Pendidikan



Urusan Tata Usaha Sekolah




Bagian Kesiswaan
Bagian Kurikulum
Bagian Pengabdian Masyarakat
Bagian Perpustakaan Sekolah



Koordinator BP/BK
G u r u




S i s w a




d. Ketenagaan / Petugas Perpustakaan

Tenaga atau petugas Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari berjumlah lima orang. Empat orang berstatus sebagai guru dan satu orang tenaga sukarelawan. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini.

No Nama Jabatan Status Latar Belakang Pendidikan
1. Drs. Syaefudin Kabag perpustakaan Guru Bahasa Indonesia
2. Aan Juansyah Bag. Pengolahan Guru PPKn
3. Aris Wahyu Bag. Pengadaan Guru Bahasa Indonesia
4. Wiwin Setiawati Bag. Pengolahan Guru Bahasa Inggris
5. Ai Herna Bag. Pelayanan Sukwan PGSD

e. Sumber Dana

Agar perpustakaan sekolah sesuai dengan yang diharapkan, maka pendanaannya harus memadai, mengingat peranan perpustakaan dalam pendidikan sangat penting. Pada hakikatnya perpustakaan sekolah merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari organisasi sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu, sumber dana perpustakaan sekolah dapat berasal dari anggaran rutin. Adapun sumber dana Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari diperoleh dari iuran anggota, S P P, B P 3, Bantuan lain yang sifatnya tidak tetap dan tidak mengikat, Dendaan dari pelanggaran batas waktu peminjaman buku.
Dana yang diperoleh oleh Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari perpustakaan itu sendiri. Penggunaan dana ini dapat dilihat dari uraian berikut ini.
1) Belanja buku : 70 %
2) Langganan majalah / surat kabar : 10 %
3) Pemeliharaan Koleksi : 7 %
4) Administrasi Perpustakaan : 5 %
5) Pembinaan Profesi : 5 %
6) Cadangan : 3 %
Persentase penggunaan dana perpustakaan tersebut sudah dipertimbangkan dengan keadaan siswa, keadaan guru, jumlah koleksi yang ada dan intensitas penggunaan atau pelayanan.
f. Perlengkapan dan Peralatan Perpustakaan
Perlengkapan dan Peralatan yang dimiliki oleh Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari adalah sebagai berikut.
1) Ruangan
Perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari menggunakan ruangan berupa kelas dengan ukuran 8 m x 15 m = 120 m², memiliki penerangan yang cukup dan ruangan yang utuh tidak terpisah-pisah. Kapasitas ruangan ini untuk menampung 40 orang pengunjung.
2) Peralatan perpustakaan
Macam-macam peralatan yang dimiliki Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No. Nama Alat Jumlah
1. Rak buku 4
2. Tempat surat kabar 1
3. Lemari buku 7
4. Meja sirkulasi 1
5. Meja baca kelompok 2
6. Meja belajar perorangan 2
7. Kabinet kartu katalog 1
8. Kursi baca 30
9. Meja Petugas 4

3) Perlengkapan
Perlengkapan yang ada di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari adalah sebagai berikut.
f) Buku inventaris koleksi buku
g) Buku inventaris koleksi bukan buku
h) Cap perpustakaan
i) Bantalan cap
j) Buku klasifikasi
k) Komputer
l) Kertas label
m) Selotip
n) Formulir kartu buku
o) Formulir lembaran tanggal kembali
p) Kantong kartu buku
q) Lem
r) Perlengkapan penjilidan
g. Kegiatan Teknis Perpustakaan
Kegiatan teknis Perpustakaan meliputi :
1) Pengadaan bahan pustaka (akuisisi)
Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari meliputi beberapa tahap :
a) tahap perencanaan
Setiap akan melaksanankan kegiatan pengadaan bahan pustaka, para petugas Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari selalu bermusyawarah untuk merencanakan buku apa saja yang akan dijadikan sebagai bahan koleksinya. Tentu saja dengan mempertimbangkan setiap kebutuhan siswa, sehingga diharapkan setiap bahan pustaka dapat meningkatkan kualitas pendidikan seluruh siswa.
b) Tahap pemilihan
Kriteria pemilihan bahan pustaka untuk Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari dilihat dari segi isi dan pengarangnya. Adapun alat pemilihannya menggunakan daftar buku beranotasi dengan rekomendasi dan brosur yang memuat daftar buku / bahan pustaka yang diterbitkan oleh penerbit.
c) Tahap pemesanan
Setelah menentukan buku-buku / bahan pustaka yang dipilih biasanya perpustakaan ini memesan buku / bahan pustakanya langsung kepada penerbitnya atau salah seorang petugas perpustakaan mencarinya langsung ke toko-toko buku.
2) Registrasi dan Inventarisasi Bahan Pustaka
Registrasi dan inventarisasi sudah dilaksanakan di perpustakaan ini dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Setiap pesanan buku-buku atau bahan pustaka diterima biasanya dicek terlebih dahulu apakah ada yang rusak atau tidak serta apakah buku / bahan pustaka yang diterima sesuai dengan pesanan atau tidak.
b) Setelah selesai pengecekan buku / bahan pustaka distempel pada bagian awal, tengah dan akhir buku.
c) Buku / bahan pustaka diberi nomor induk secara berurutan mulai dari nomor 1, 2, 3, 4, ….dst. Nomor induk buku ini ditulis pada halaman judul dan di bagian samping buku.
d) Mendaftarkan buku / bahan pustaka ke dalam buku induk. Untuk majalah dan surat kabar belum didaftarkan kardeks.
3) Katalogisasi
Di Perpustakaan ini katalogisasi belum dilaksanakan.

4) Klasifikasi
Sistem klasifikasi yang digunakan di SMP Negeri 1 Banjarsari adalah sistem DDC (Dewey Desimal Classification). Namun penyimpanan buku di rak buku belum sesuai dengan klasifikasinya. Hal ini disebabkan karena pengetahuan siswa tentang klasifikasi buku masih rendah sehingga sewaktu menyimpan buku yang telah dibacanya tidak pada rak buku yang sesuai dengan klasifikasinya.
5) Pelayanan
a. Sistem pelayanan
Sistem pelayanan pengunjung di Perpustakaan SLTP Negeri 1 Banjarsari bersifat terbuka. Diperpustakaan ini pengunjung diperkenankan langsung memilih buku / bahan pustaka yang tersedia di rak buku dan mengambilnya sendiri untuk dibaca di ruang baca atau membawanya ke bagian sirkulasi untuk dipinjam pulang atau keluar perpustakaan. Setelah selesai dibaca di ruang baca, mereka harus mengembalikan sendiri buku / bahan pustaka tersebut ke tempat semula.
b. Waktu kegiatan
Waktu kegiatan perpustakaan yang disediakan bagi pengunjung (siswa) untuk membaca atau meminjam buku adalah sebagai berikut.
1) Senin sampai dengan Kamis mulai pukul 07.00 s.d. pukul 13.30
2) Jumat mulai pukul 07.00 s.d. 11.00
3) Sabtu mulai pukul 07.00 s.d. 12.45
6) Administrasi pelayanan / peminjaman
Administrasi pelayanan / peminjaman yang digunakan adalah sebagai berikut.

a. Tanda atau label buku yang ditempatkan pada punggung buku
b. Kartu buku yang berisi identitas buku
c. Kantong buku tempat kartu buku yang ditempelkan dibagian belakang bagian dalam.
d. Kartu tanda anggota
e. Buku peminjaman bahan pustaka (berukuran lebar 8 cm dan panjang 10 cm) yang didalamnya terdapat identitas anggota atau siswa yang dilengkspi pas foto (pengganti kartu anggota), catatan mengenai nomor kode buku yang dipinjam dan tanggal kembali (pengganti kartu peminjaman), kantong buku. Buku peminjaman ini dimiliki oleh seluruh siswa dan apabila ingin meminjam buku di perpustakaan ini buku tersebut harus dibawa.
f. Kartu buku
g. Lembaran tanggal kembali.
h. Kotak pengontrol pengembalian buku

7) Pemanfaatan perpustakaan
Para siswa sudah dapat memanfaatkan perpustakaannya sebagai sumber belajar dan sumber informasi guna memperluas cakrawala pengetahuan, penguasaan keterampilan, penyerapan dan pengembangan nilai dan sikap hidupnya.



8) Keanggotaan
a. Jumlah anggota perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari tahun pelajaran 2003 / 2004 sebanyak 1200 orang siswa.
b. Jumlah pengunjung pada tahun 2003 sebanyak 13.360 orang.
c. Jumlah peminjam pada tahun 2003 sebanyak 4.321 orang
d. Jumlah buku yang dipinjam
1) buku paket sebanyak 8.840 eksemplar
2) buku fiksi sebanyak 593 eksemplar
3) buku non fiksi sebanyak 284 eksemplar
4) non buku (Koran ) 145

C. Upaya-upaya Kearah Pengembangan Perpustakaan Elektronik
Mendesain data elektronik :
1. Langkah yang pertama adalah menata disain Home Page SMP Negeri 1 Banjarsari yang memasukkan komponen perpustakaan yang bisa diakses melalui internet.
2. Pengembangan buku elekronik yang saat ini sudah berada di Home Page SMP Negeri 1 Banjarsari dan sudah dapat diakses melalui internet.
3. Pengembangan program CAI untuk jenjang SMP yang saat ini sudah ada seperti CAI Fisika dan Matematika untuk dilanjutkan dengan bidang studi yang lain. Ini cukup memungkinkan karena di SMP Negeri 1 Banjarsari sudah memiliki fasilitas untuk presentasi multimedia.
4. Pembuatan database katalog dari koleksi (item pustaka) sebagai katalog elektronik di perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari sebagai upaya pengembangan koleksi perpustakaan.
5. Pembuatan resensi bahan pustaka (item pustaka) menjadi data elektronik sebagai informasi awal untuk penelusuran bagi pengguna perpustakaan sebelum memperoleh sumber yang asli di tempat penyimpanan perpustakaan.
D. Pembuatan jaringan perpustakaan di tingkat kompleks sekolah (intranet):
1. Sekolah harus memiliki jaringan (LAN) fasilitas jaringan ditambah hingga ke ruang-ruang perpustakaan sekolah yang berada di areal komplek tersebut. dapat dibuatkan koneksi jaringan dari perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari ke sekolah-sekolah lainnya.
2. Sekolah membuat kumpulan database dari perpustakaan dan ditempatkan pada sebuah server sehinga dapat diakses oleh pemakai di sekolah tersebut.
Upaya akhir dari pengembangan perpustakaan elektronik adalah terbentuknya jaringan perpustakaan di lingkungan SMP Negeri 1 Banjarsari. Jika ini terealisasi maka berbagai manfaat akan diperoleh dari upaya-upaya ini, seperti :


Bagi Siswa :
1. Penyediaan sumber-sumber pengetahuan untuk pengerjaan tugas-tugas bidang studi.
2. Kemudahan informasi melaui internet.
3. Kemudahan informasi dari koleksi buku (item pustaka) yang ada di perpustakaan SMP Negeri 1 Banjarsari.
4. Dapat langsung mencetak materi yang dibutuhkan dari sumber tersebut.
Bagi Guru :
1. Dapat meningkatkan wawasan pengetahuan guru bidang studi, akses ke internet, akses ke resensi buku (koleksi perpustakaan), dan lain-lain.
2. Mempermudah guru dalam mendisain media pembelajaran dengan tersedianya sumber-sumber materi yang mudah diperoleh melalui komputer.






BAB III
PENUTUP

Perpustakaan sebagai salah satu sistem informasi memiliki peran yang vital dalam usaha pengumpulan, pengelolaan dan penyebaran informasi kepada masyarakat yang membutuhkannya, ini sesuai dengan salah satu fungsi perpustakaan yaitu fungsi informasi 1) Tetapi dalam kehidupan saat ini, dimana perubahan terjadi dengan sangat cepat, tuntutan masyarakat terhadap kecepatan akses terhadap informasi semakin meningkat, hal ini harus diantisipasi oleh perpustakaan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tersebut dengan baik perpustakaan harus berbenah, seperti dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan teknologi infommasi (teknologi komputer dan telekomunikasi) untuk mendukung operasional kegiatan perpustakaan.
Makalah sederhana ini mencoba untuk memberikan altarnatif bagi jaringan perpustakaan masa depan di Indonesia, dengan mengacu kepada kondisi objektif yang ada di Indonesia serta perkembangan, teknologi khususnya teknologi informasi dan.penerapannya di perpustakaan sekarang ini dan antisipasi terhadap 'trend,' perpustakaan di masa mendatang. Tulisan ini tidak berdasarkan pada penelitian yang mendalam melainkan berangkat dari pengamatan penulis terhadap perkembangan perpustakaan, berdasarkan literatur yang sangat terbatas dan pengetahuan yang sangat minim yang penulis peroleh selama menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Perpustakaan ini. Sehingga diperlukan penelitian lebih