Sabtu, 25 Juni 2011

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

Fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pentingnya pendidikan karakter atau lazim juga disebut pendidikan akhlak bagi masyarakat Indonesia, kembali hangat dibicarakan. Keadaan ini menimbulkan kesan, kalau pendidikan yang satu ini sudah lama tersepelekan begitu saja.
Penyebabnya tidak lain karena tingginya fokus guru dan siswa untuk lulus Ujian Nasional (UN). Alhasil, perlahan namun pasti, kepentingan ini telah menggerogoti pentingnya pendidikan karakter bagi siswa.
Guru lebih memfokuskan diri untuk menamatkan semua mata pelajaran, agar anak didiknya tidak ketinggalan satu materi pun. Mengerti atau tidak, itu urusan lain. Satu hal yang terpenting, jika ada soal UN terkait materi tersebut, bisa dijawab siswa dengan mudah.
Beda sekali keadaannya, jika dibandingkan dengan zaman dulu. Di mana pendidikan karakter jadi fokus utama setiap guru, di tiap mata pelajaran yang dibimbingnya. Setiap guru menekankan pada dirinya, bahwa ia tidak sekedar mendidik, tapi juga mengajar akhlak.
Dulu Guru Bahasa Indonesia menyediakan banyak waktu untuk membacakan cerita penuh hikmah pada muridnya, agar dapat diteladani di kehidupannya kelak. Kesimpulan yang mereka berikan di akhir cerita, terpatri di benak anak didik hingga dewasa.
Sementara saat ini, guru seolah-olah belajar melupakan fungsi mengajar atau pendidikan karakter bagi sang murid. Baginya, jika semua materi pelajaran dalam buku pegangan sudah selesai diberikan tepat waktu, itu baru dinamakan prestasi.
Urusan akhlak dikembalikan pada orangtua, karena merekalah yang lebih wajib mengajarkan akhlak atau pendidikan karakter pada anak-anaknya. Celakanya, orangtua sama sekali tidak tahu bahkan tak punya banyak waktu, untuk membentuk jiwa anak-anaknya.
Syukur-syukur jika sang anak hidup di lingkungan agamis, sehingga jiwanya terbentuk bagus oleh lingkungan. Tapi kalau lingkungannya tidak baik, maka ia akan jadi anak yang liar dan jauh dari norma-norma kebaikan.
Anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang tidak baik ini, akhirnya berubah menjadi anak-anak nakal di sekolah maupun di lingkungan. Mereka gampang terlibat tawuran, hanya karena masalah sepele. Mereka gagal mengendalikan emosi, dan lebih mengedepankan otot dalam menyelesaikan persoalan.
Lalu bagaimana cara menanamkan sifat dan karakter tersebut di sekolah? ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru yaitu:
1.      Melalui keteladanan
Sifat anak adalah suka meniru, oleh karena itu sebagai guru hendaknya harus selalu memberi contoh yang baik sesuai dengan norma dan aturan yang ada. Maksud memberi contoh disini bukan sekedar menjelaskan contoh perilaku yang baik, tetapi perilaku guru harus selalu baik terus menerus sehingga dapat dicontoh.
semua guru harus menjadikan dirinya sebagai sosok teladan yang berwibawa bagi para siswanya. Sebab tidak akan memiliki makna apapun bila seorang guru PKn mengajarkan menyelesaikan suatu masalah yang bertentangan dengan cara demokrasi, sementara guru lain dengan cara otoriter. Atau seorang guru pendidikan agama dalam menjawab pertanyaan para siswanya dengan cara yang nalar yaitu dengan memberikan contoh perilaku para Nabi dan sahabat, sementara guru lain hanya mengatakan asal-asalan dalam menjawab.
Contoh lain :
a.      Guru datang ke sekolah lebih awal daripada siswa dan pulang setelah siswa semuanya sudah pulang
b.      Setiap pagi guru menyambut siswa dengan senyum, sapa, salam di pintu gerbang sekolah
c.       Masuk dan keluar kelas tepat waktu
d.      Memberikan pelayanan pada siswa dengan ramah
e.      Tidak emosional
f.        Jujur
g.      Bertutur kata dan berprilaku yang santun
h.      Berpakaian yang rapi
i.        Demokratis
j.        Dll.

2.      Melalui pembiasaan
Pembiasaan adalah merupakan salah satu cara yang dapat dipergunakan untuk mendidik siswa. Dengan cara ini diharapkan siswa akan terbiasa melalukan hal yang baik-baik. Contoh :
a.      Untuk menanamkan jiwa nasionalisme setiap hari Senin melakukan upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
b.      Berdoa sebelum pelajaran pertama dimulai dan sebelum pulang
c.       Mengucapkan salam setiap bertemu dengan guru dan teman
d.      Membaca ayat-ayat suci Al-Quran selama 10 menit setiap pagi pada jam pelajaran pertama
e.      Mengikuti kegiatan santapan rohani setiap hari Jumat
f.        Melaksanakan tugas piket kebersihan sesuai jadwal
g.      Menyisihkan uang jajan setiap seminggu sekali yang akan dipergunakan untuk membantu siswa yang kurang mampu
h.      Melaksanakan sholat dzuhur berjamaah
i.        Membuang sampah pada tempatnya
j.        Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah
k.       Mengikuti kegiatan pengembangan diri atau ekstrakurikuler
l.        Mematuhi tata tertib sekolah

3.      Melalui upaya yang sistematis.
Cara ini dapat ditempuh dengan memasukkan program budaya dan karakter bangsa pada para siswa melalui program sekolah dan KTSP. Disini peran guru sangat penting dan diharapkan melalui KTSP dengan kelengkapan silabus dan RPPnya guru dapat menanamkan jiwa dan karakter para siswa menjadi bangsa Indonesia yang tangguh dan kuat dalam menghadapi era globalisasi dimana persaingan antar bangsa sangat kompetitif.
Penerapan pendidikan karakter melaui upaya menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran. Seluruh mata pelajaran ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pengajar karakter (character educator). Semua mata pelajaran diasumsikan memiliki misi moral dalam membentuk karakter positif siswa. Dengan model ini maka pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kolektif seluruh komponen sekolah. Model ini dipandang lebih efektif, namun memerlukan kesiapan, wawasan moral dan keteladanan dari seluruh guru. Satu hal yang lebih sulit dari pada pembelajaran karakter itu sendiri.  Pada sisi lain model ini juga menuntut kratifitas dan keberanian para guru dalam menyusun dan mengembangkan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Sesungguhnya setiap guru yang mengajar haruslah sesuai dengan tujuan utuh pendidikan. Tujuan utuh pendidikan jauh lebih luas dari misi pengajaran yang dikemas dalam Kompetensi Dasar (KD). Rumusan tujuan yang berdasarkan pandangan behaviorisme dan menghafal saja sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Para guru harus dapat membuka diri dalam mengembangkan pendekatan rumusan tujuan, sebab tidak semua kualitas manusia dapat dinyatakan terukur berdasarkan hafalan tertentu. Pemaksaan suatu pengembangan tujuan didalam kompetensi dasar tidak dapat dipertahankan lagi bila hanya mengacu pada hafalan semata.
Pendidikan karakter bangsa dalam keterpaduan pembelajaran dengan semua mata pelajaran sasaran integrasinya adalah materi pelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar para siswa. Konsekuensi dari pembelajaran terpadu, maka modus belajar para siswa harus bervariasi sesuai dengan karakter masing-masing siswa Variasi belajar itu dapat berupa membaca bahan rujukan, melakukan pengamatan, melakukan percobaan, mewawancarai nara sumber, dan sebagainya dengan cara kelompok maupun individual.
Terselenggaranya variasi modus belajar para siswa perlu ditunjang oleh variasi modus penyampaian pelajaran oleh para guru. Kebiasaan penyampaian pelajaran secara eksklusif dan pendekatan ekspositorik hendaknya dikembangkan kepada pendekatan yang lebih beragam seperti diskoveri dan inkuiri. Kegiatan penyampaian informasi, pemantapan konsep, pengungkapan pengalaman para siswa melalui monolog oleh guru perlu diganti dengan modus penyampaian yang ditandai oleh pelibatan aktif para siswa baik secara intelektual (bermakna) maupun secara emosional (dihayati kemanfaatannya) sehingga lebih responsif terhadap upaya mewujudkan tujuan utuh pendidikan. Dengan bekal varisai modus pembelajaran tersebut, maka skenario pembelajaran yang di dalamnya terkait pendidikan karakter bangsa seperti contoh berikut ini dapat dilaksanakan lebih bermakna.
Penempatan Pendidikan karakter bangsa diintegrasikan dengan semua mata pelajaran tidak berarti tidak memiliki konsekuensi. Oleh karena itu, perlu ada komitmen untuk disepakati dan disikapi dengan saksama sebagai kosekuensi logisnya. Komitmen tersebut antara lain sebagai berikut. Pendidikan karakter bangsa (sebagai bagian dari kurikulum) yang terintegrasikan dalam semua mata pelajaran, dalam proses pengembangannya haruslah mencakupi tiga dimensi yaitu kurikulum sebagai ide, kurikulum sebagai dokumen, dan kurikulum sebagai proses (Hasan, 2000) terhadap semua mata pelajaran yang dimuati pendidikan karakter bangsa. Lebih lanjut, Hasan (2000) mengurai bahwa pengembangan ide berkenaan dengan folisifi kurikulum, model kurikulum, pendekatan dan teori belajar, pendekatan atau model evaluasi. Pengembangan dokumen berkaitan dengan keputusan tentang informasi dan jenis dokumen yang akan dihasilkan, bentuk/format Silabus, dan komponen kurikulum yang harus dikembangkan. Sementara itu, pengembangan proses berkenaan dengan pengembangan pada tataran empirik seperti RPP, proses belajar di kelas, dan evaluasi yang sesuai. Agar pengembangan proses ini merupakan kelanjutan dari pengembangan ide dan dokumen haruslah didahului oleh sebuah proses sosialisasi oleh orang-orang yang terlibat dalam kedua proses, atau paling tidak pada proses pengembangan kurikulum sebagai dokumen.
Dalam pembelajaran terpadu agar pembelajaran efektif dan berjalan sesuai harapan ada persyaratan yang harus dimiliki yaitu (a) kejelian profesional para guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait yang harus dikerjakan para siswa untuk menggiring terwujudnya kaitan-kaitan koseptual intra atau antarmata bidang studi dan (b) penguasaan material terhadap bidang-bidang studi yang perlu dikaitkan). Berkaitan dengan Pendidikan karakter bangsa sebagai pembelajaran yang terpadu dengan semua mata pelajaran arahan pengait yang dimaksudkan dapat berupa pertanyaan yang harus dijawab atau tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa yang mengarah kepada perkembangan pendidikan karakter bangsa dan pengembangan kualitas kemanusiaan.
Selain penilaian dilakukan terhadap semua kemampuan pada saat ujian berlangsung, boleh jadi seorang guru memperhitungkan tindak-tanduk siswanya di luar ujian. Seorang guru mungkin saja tidak akan meluluskan seorang siswa yang mengikuti ujian mata pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya adalah kurang sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi. Oleh karena itu, akan tepat apabila pada setiap mata pelajaran dirumuskan tujuan pengajaran yang mencakupi kemampuan dalam semua ranah. Artinya, pada setiap rencana pembelajaran termuat kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor; dampak instruksional; dan dampak pengiring. Dengan demikian, seorang guru akan menilai kemampuan dalam semua ranah ujian suatu mata pelajaran secara absah, tanpa ragu, dan dapat dipertangungjawabkan.
Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran dan prinsip-prinsip tersebut maka dapat dimengerti bahwa pendidikan karakter bangsa menghendaki keterpaduan dalam pembelajarannya dengan semua mata pelajaran. Pendidikan karakter bangsa diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, dengan demikian akan menghindarkan adanya "mata pelajaran baru, alat kepentingan politik, dan pelajaran hafalan yang membosankan."

0 komentar:

Poskan Komentar